<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet href="/feed.rss.xml" type="text/xsl" media="screen"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>ikrimah214@gmail.com</title>
    <description>Tumbuhan Paku berbeda dengan tanaman lainnya yang tumbuh langsung dari biji. Tumbuhan paku tumbuh dari spora. Tumbuhan paku termasuk kelompok tumbuhan kuno. Konon, fosil tumbuhan paku pertama ada sekitar 360 juta tahun yang lalu, jauh lebih tua dari pada dinosaurus.

Ciri-ciri Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku mempunyai ukuran yang bervariasi dari yang tinggi sekitar dua cm, contohnya pada tumbuhan paku yang hidup mengapung di permukaan air, sampai dengan tumbuhan paku di darat yang bisa menempuh tinggi lima meter, contohnya paku tiang (Sphaeropteris). Tumbuhan paku purba yang telah menjadi fosil diperkirakan ada yang menempuh tinggi 15 meter.

Bentuk tumbuhan paku yang hidup dikala ini bervariasi, ada yang berbentuk lembaran, perdu atau pohon, dan seperti tanduk rusa.

Tumbuhan paku terdiri dari dua generasi, yakni generasi saprofit dan generasi gametofit. Generasi sporofit dan generasi gametofit ini tumbuh bergantian dalam siklus hidup tumbuhan paku. Generasi sporofit yakni tumbuhan yang mewujudkan spora. Meskipun generasi gametofit yakni tumbuhan yang mewujudkan yang mewujudkan gamet (sel kelamin).

Sporofit berukuran lebih besar dan generasi hidupnya lebih lama dibandingi generasi gametofit pada tumbuhan paku. Itulah sebabnya, generasi sporofit tumbuhan paku disebut sebagai generasi yang dominan. Generasi sporofit inilah yang umumnya kita lihat sehari-hari sebagai tumbuhan paku.

Siklus Hidup Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara fase gametofit dan fase sporofit.
Kedua fase ini berlangsung secara bergiliran.
Sporofit pada tumbuhan paku yakni tumbuhan paku itu sendiri yang mewujudkan spora pada daunnya.
Sporofit yakni fase dominan pada pelaksanaan pergiliran keturunan tumbuhan paku.
Spora yang dihasilkan akan tumbuh seandainya jatuh pada daerah yang lembab dan sejuk.

Golongan Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku dibagi menjadi empat kelas sebagai berikut.

1. Kelas Psilotinae (Paku Purba)

Banyak dari variasi tumbuhan paku ini telah menjadi fosil.
Dua marga yang masih hidup yakni Psilotum dan Tmesipteris.
Kelas Psilotum termasuk tumbuhan paku tingkat rendah.
Sporofit tumbuhan paku ini tidak mempunyai akar sejati, tapi masih berupa rhizoid.
Batang seringnya tidak berdaun sehingga disebut sebagai paku telanjang.
Sporangium tunggal, terletak di ujung cabang atau ketiak daun.

2. Kelas Lycopodinae (Paku Kawat)

Sporofit telah mempunyai akar, batang dan daun.
Tumbuhan paku in berupa tumbuhan yang menjalar di permukaan tanah.
Mempunyai batang kecil dengan percabangan menggarpu (dikotomi).
daun umumnya banyak, berukuran kecil, tersusun dalam lingkaran, spiral atau berhadapan.
Sporangium yang dihasilkan tunggal, terletak pada ketiak daun.
Daun yang fertil terdapat pada ujung cabang disebut sporofil,
Kumpulan sporofil disebut strobilus, yakni struktur penghasil spora yang menyerupai kerucut.
Teladan tumbuhan paku kelas ini yakni Lycopodium (paku kawat) dan Selanginella (paku rane).

3. Kelas Equisetinae (Paku Ekor Kuda)

Golongan tumbuhan paku ini berupa terna yang tumbuh subur di daerah-daerah yang lembab. Tumbuhan paku variasi ini tumbuh dalam jumlah yang amat besar sehingga bersifat dominan dalam kelompok sosial tertentu. Batangnya bercabang-cabang dengan ruas-ruas yang nampak terang. Daunnya kecil dan bersisik seperti selaput yang tersusun melingkar pada tiap ruas batang.

Pada ujung batangnya umumnya ditemui sporofil atau bagian penghasil spora yang membentuk kerucut, sehingga mirip dengan ekor kuda yang masih hidup dan banyak ditemukan di Indonesia antara lain Equisetum debile dan Equisetum ranosissimum, dan Equisetum arvense.

4. Kelas Paku Sejati  (Filicinae)

Golongan tumbuhan paku ini yakni tumbuhan paku yang hakekatnya. Tumbuhan ini bersifat higrofit, banyak tumbuh di daerah-daerah yang sejuk dan lembab. Mempunyai ukuran tubuh yang bervariasi, mulai dari yang kecil sampai yang tinggi menjulalang seperti pohon. Tumbuhan paku sejati pada bagian batang, tangkai, dan beberapa daunnya tertutup oleh suatu lapisan rambut-rambut berbentuk sisik.

Tumbuhan paku sejati dibedakan menjadi dua variasi, yakni tumbuhan paku tanah dan tumbuhan paku air. Teladan tumbuhan paku tanah yakni suplir (Adiantum trapiziforme) yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan tumbuhan paku sarang burung (Asplenium nidus) yang bersifat epifit. Teladan tumbuhan paku air yakni Salvinia natans yang hidup terapung di permukaan air, Azolla pinnata yang sering kali nampak menutupi sawah-sawah di Asia dan Indonesia, dan semanggi (Marsilea crenata) yang bertangkai panjang dengan helaian daun yang umumnya berbelah dua atau empat.

Manfaat Tumbuhan Paku

Untuk tanaman hias, contohnya suplir, paku menjangan, paku tiang (Alsophyla), dan paku sarang burung (Asplenium nidus).
Untuk bahan dasar obat antideuretika (beser), contohnya Lycopodium (paku kawat).
Dimanfaatkan sebagai lalap dan sayuran, contohnya semanggi dan paku garuda (Pteris sp.).
Dimanfaatkan sebagai pupuk hijau yang bisa menyuburkan tanah pertanian, contohnya Azolla pinnta. Daun paku air ini bersimbiosis dengan alga biru Anabaena azolae yang bisa mengikat nitrogen dari udara.
Bahan baku batu bara. Endapan atau sedimen dari tumbuhan paku yang telah mati dan memfosil akan menjadi batu bara yang berwarna gelap dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar.  Untuk mendapatkan informasi lainnya kunjungi &lt;a href=”http://ikrimah.com/”&gt;Ikrimah.com&lt;/a&gt; terima kasih.</description>
    <link>https://speakerdeck.com/arab</link>
    <atom:link rel="self" type="application/rss+xml" href="https://speakerdeck.com/arab.rss"/>
  </channel>
</rss>
