Upgrade to Pro — share decks privately, control downloads, hide ads and more …

Skill.md, Skill Karir: Bagaimana Context Engine...

Sponsored · Your Podcast. Everywhere. Effortlessly. Share. Educate. Inspire. Entertain. You do you. We'll handle the rest.

Skill.md, Skill Karir: Bagaimana Context Engineering Mengubah Developer Jadi Kolaborator AI

Giving insight on how context engineering became the career skill every developer needs right now

Avatar for Wahyu Ivan

Wahyu Ivan

July 10, 2026

More Decks by Wahyu Ivan

Other Decks in Education

Transcript

  1. Intro 4 years exp of working (since Jul 2022). 1

    year as QA, 3 year as dev, polygloting using many different tech. *and also, a part-time content creator Hi, I’m Wahyu. Intro {DEVSHARE}
  2. Lapangan kerja developer usia 22–25 tahun turun hampir 20% sejak

    akhir 2022 (Stanford Digital Economy Lab, 2025)
  3. {DEVSHARE} </> Kerjaan Developer Udah Ga Relevan? Perlu diketahui bahwa

    ini bukan penurunan total lapangan kerja developer, yang hilang itu spesifik: anak tangga pertama. Entry- level. Posisi yang dulu 'dijamin' oleh gelar informatika.
  4. {DEVSHARE} </> Entry-level hiring di 15 perusahaan teknologi terbesar turun

    25% (2023→2024, SignalFire) Survei SHRM 2024: 70% hiring manager bilang AI bisa mengerjakan pekerjaan intern; 57% lebih percaya hasil kerja AI dibanding hasil kerja intern/fresh graduate Kerjaan Developer Udah Ga Relevan?
  5. +6% sampai +12% Employment pekerja usia 30+ di pekerjaan paling

    ter-ekspos AI justru NAIK +43% Premi gaji untuk pekerja dengan AI skills dibanding non-AI
  6. {DEVSHARE} </> 2026: Wajib Melek AI Riset dari institusi yang

    sama menunjukan: untuk pekerja usia 30 tahun ke atas di kategori pekerjaan yang paling ter- ekspos AI, employment justru tumbuh 6 sampai 12 persen di periode yang sama (Stanford ADP Payroll Analysis). Dan pekerja dengan multiple AI skills menikmati premi gaji sekitar 43% di atas rekan-rekannya (Acceler8 Talent)
  7. {DEVSHARE} </> Nilainya Menurun Nilainya Meningkat Kecepatan mengetik kode Judgment

    arsitektural Menghafal sintaks Merancang workflow dengan AI Full-stack generalis junior Spesialisasi + domain expertise Sekadar "bisa nge-prompt" Mampu mengarahkan & memverifikasi AI Mari Melangkah ke Depan
  8. {DEVSHARE} </> Mari Melangkah ke Depan Yang tergantikan bukan developer,

    tetapi tugas-tugas repetitif. Boilerplate code, CRUD standar, dan debugging sederhana kini bukan lagi nilai tambah karena dapat dikerjakan AI lebih cepat. Perusahaan kini lebih tertarik mencari AI-native developer. AI-native ≠ jago prompting. Lebih ke arah mampu mengarahkan, mengevaluasi, dan memverifikasi hasil AI.
  9. {DEVSHARE} Evolution </> Era Chatbot (2023) AI sebagai Stack Overflow

    yang bisa ngobrol. Tanya → jawab → copy-paste. Konteks: nol. 01 Era Copilot (2024) AI sebagai autocomplete cerdas di editor. Konteks: file yang sedang dibuka. 02 Era Agent (2025–sekarang) AI sebagai budak total: baca codebase, jalankan test, buka PR. Konteks: seluruh proyek 03
  10. {DEVSHARE} </> AI Bisa Cepat, Tapi Belum Tentu Tepat Data

    GitClear (211 juta baris kode) menunjukkan duplikasi kode meningkat hingga 8× di era AI coding. AI cenderung menghasilkan pola yang paling umum di internet, bukan yang paling sesuai dengan arsitektur proyek kita. AI slop bukan karena AI "bodoh". Penyebab utamanya adalah konteks yang kurang jelas.
  11. {DEVSHARE} </> The Difference Prompt engineering = merangkai kata yang

    tepat untuk SATU permintaan Context engineering = mendesain SISTEM informasi yang membuat AI secara konsisten benar (sesuai keinginannya kita) di SEMUA permintaan
  12. {DEVSHARE} </> Prompting Context Engineering Memberi instruksi setiap kali mulai

    Menyediakan panduan yang selalu bisa digunakan Seperti briefing freelancer Seperti buku onboarding perusahaan AI harus memahami ulang konteks di setiap chat AI langsung memahami standar proyek Hasil bisa berubah-ubah Hasil lebih konsisten dan sesuai kebutuhan The Difference
  13. {DEVSHARE} </> Prinsip yang Dipakai Industri Pengetahuan proyek dipindahkan dari

    kepala manusia ke file yang dapat dibaca AI. AI tidak perlu dijelaskan dari nol di setiap percakapan. Standar proyek menjadi konsisten untuk seluruh tim. Contoh implementasi: Claude → CLAUDE.md + Skills Cursor → .cursorrules AI lainnya → AGENTS.md
  14. {DEVSHARE} </> Aturan yang Mengubah Perilaku AI Spesifik → Sebutkan

    teknologi, versi, atau pola yang digunakan. Jelas batasannya → Tuliskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Berikan alasan → Jelaskan mengapa aturan itu ada agar AI memahami konteks keputusan tim.
  15. {DEVSHARE} </> Aturan yang Terlalu Umum Aturan yang Mengubah Perilaku

    AI "Tulis kode yang bersih." "Semua data fetching menggunakan Server Component. Client Component hanya untuk interaktivitas." "Ikuti best practice." "Gunakan Zustand untuk state management. Jangan menambahkan Redux karena proyek sudah bermigrasi." "Gunakan Tailwind dengan baik." "Jangan menulis CSS custom. Jika utility Tailwind tidak cukup, minta persetujuan sebelum membuat class baru." Menyusun Aturan Spesifik Proyek
  16. {DEVSHARE} </> 5 Komponen Context Engineering ROLE: Siapa kamu? →

    "Kamu adalah senior frontend engineer di proyek e-commerce B2B dengan Next.js 14" STACK: Pakai apa & JANGAN pakai apa → versi framework, library yang disetujui, dan yang dilarang KONVENSI: Bagaimana kita menulis → struktur folder, penamaan, pola arsitektur GUARDRAILS: Batas yang tidak boleh dilewati → "jangan sentuh folder auth", "jangan ubah file test untuk meloloskan kode" DEFINITION OF DONE: Kapan pekerjaan dianggap selesai → lint lulus, test hijau, sesuai pola yang ada
  17. # CLAUDE.md — InvoiceKu ## ROLE Kamu adalah senior frontend

    engineer di proyek InvoiceKu — SaaS invoicing untuk freelancer Indonesia. Kamu menulis kode production-grade, bukan prototype. Kalau ada keputusan arsitektur yang ambigu atau butuh library baru, TANYA DULU sebelum mengerjakan. ## TECH STACK (terkunci — jangan ganti, jangan tambah tanpa izin) - Next.js 14, App Router. DILARANG Pages Router. - TypeScript strict mode. DILARANG `any`. - Styling: Tailwind CSS SAJA. Dilarang CSS module, styled-components, atau inline style. Kalau utility Tailwind tidak cukup, tanya dulu. - State management: Zustand. DILARANG menambahkan Redux — tim sudah pernah migrasi keluar dari Redux dan tidak akan kembali. - Database & auth: Supabase (sudah dikonfigurasi di lib/supabase). - Form: react-hook-form + zod untuk validasi. ## KONVENSI PROYEK - Struktur folder: - app/ → routes (App Router) - components/ui/ → komponen presentasional reusable - components/features/<fitur>/ → komponen spesifik fitur - lib/ → utilitas, klien supabase, helpers - stores/ → Zustand stores - Penamaan: komponen PascalCase, file komponen PascalCase.tsx, utilitas camelCase.ts, konstanta UPPER_SNAKE_CASE. - Data-fetching di Server Component. Client Component ("use client") HANYA untuk interaktivitas. Jangan fetch di client kecuali realtime. - Setiap mutasi lewat Server Action dengan validasi zod di sisi server. Validasi client-side saja TIDAK dianggap aman. ## ATURAN DOMAIN (khusus bisnis kita — WAJIB) - Mata uang: Rupiah (IDR). Format tampilan: "Rp1.250.000" (pemisah titik). - SEMUA nilai uang disimpan dan dihitung sebagai INTEGER dalam sen (contoh: Rp1.250.000 = 125000000). DILARANG float untuk uang. Titik. - Pajak: PPN 11%, opsional per invoice (freelancer PKP vs non-PKP). - Format tanggal: DD/MM/YYYY untuk tampilan, ISO 8601 untuk penyimpanan. - Nomor invoice: INV/{YYYY}/{MM}/{urutan-4-digit}, contoh INV/2026/07/0042. - Bahasa UI: Indonesia. Istilah teknis boleh Inggris (Dashboard, Login). ## GUARDRAILS (batas keras) - JANGAN menyentuh folder app/(auth) dan lib/supabase — sudah stabil. - JANGAN menambahkan dependency baru tanpa bertanya dulu. - JANGAN mengubah atau menghapus file test agar kode lolos. Kalau test gagal, perbaiki KODENYA, bukan testnya. - JANGAN menulis secret/API key di kode. Semua lewat env variables. - Perubahan besar (>3 file) → tulis rencana singkat dulu, minta konfirmasi. ## DEFINITION OF DONE Sebuah task dianggap selesai kalau: 1. `npm run lint` dan `npm run typecheck` lulus tanpa error 2. Test yang relevan hijau (dan test baru ditulis untuk logika uang/pajak) 3. Mengikuti konvensi folder & penamaan di atas 4. Tidak ada TODO/console.log tersisa 5. Kamu bisa menjelaskan dalam 2-3 kalimat: apa yang berubah dan kenapa
  18. {DEVSHARE} </> 5 Disiplin Context dulu, prompt kemudian. Jangan mulai

    proyek dengan prompting; mulai dengan menulis context file. 30 menit menulis konteks menghemat berminggu-minggu revisi. Spec sebelum kode. Untuk fitur besar: minta AI menulis rencana/spec dulu → review rencananya → baru eksekusi. Mengoreksi rencana itu murah; mengoreksi 2.000 baris kode itu mahal. Potongan kecil, review ketat. PR raksasa hasil AI = tempat slop bersembunyi. Batasi ukuran perubahan; review untuk kecocokan arsitektur, bukan cuma "jalan atau nggak".
  19. {DEVSHARE} </> 5 Disiplin Kamu tetap penulisnya. Aturan sederhana: jangan

    pernah merge kode yang nggak bisa kamu jelaskan ke orang lain. AI yang mengetik, tapi nama kamu yang ada di commit. Context file itu makhluk hidup. Setiap kali AI bikin kesalahan yang sama dua kali → itu sinyal ada aturan yang belum ditulis. Update context file-nya. Tim yang disiplin melakukan ini akan punya AI yang makin lama makin "senior".
  20. {DEVSHARE} </> Peta Skill Developer 2026+ Fundamentals (tetap wajib!): algoritma,

    struktur data, debugging, design principles. AI justru membuat ini MAKIN penting: kalian nggak bisa memverifikasi apa yang nggak kalian pahami. AI-Native Workflow: mahir bekerja dengan minimal satu AI agent (Claude Code, Cursor, atau lainnya) sebagai bagian workflow harian, bukan sebagai mainan.
  21. {DEVSHARE} </> Peta Skill Developer 2026+ Context Engineering: mendesain context

    file, guardrails, dan spec yang membuat AI konsisten mengikuti standar tim. Judgment & Domain Expertise: kemampuan menilai "ini solusi yang benar untuk sistem ini atau bukan" + pemahaman domain bisnis. Hal ini yang paling tidak tergantikan, dan hanya tumbuh dari pengalaman + fundamental yang kuat.
  22. {DEVSHARE} </> Dari Executor ke Kolaborator Level 1: AI User:

    pakai AI untuk mempercepat tugas sendiri. (Hampir semua orang ada di level ini sekarang) Level 2: AI Collaborator: mendesain konteks & guardrails supaya AI bekerja sesuai standar tim. Level 3: AI Workflow Designer: merancang sistem kerja manusia+AI untuk satu tim/organisasi: siapa mengerjakan apa, di mana AI dipercaya, di mana manusia wajib memverifikasi. (Jalur menuju senior/lead di era AI)
  23. SKILL.MD, SKILL KARIR Jangan takut tergantikan AI, takutlah ketika kalian

    digantikan oleh orang yang mahir menggunakan AI dan jualan kelas 1001 teknik prompting Penutup Wayan Wahyu {DEVSHARE}