Upgrade to Pro — share decks privately, control downloads, hide ads and more …

Analisis Kualitas Airtanah dan Infiltrasi Daerah Kertamukti - Sirnaraja, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Analisis Kualitas Airtanah dan Infiltrasi Daerah Kertamukti - Sirnaraja, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Penulis: Adhi Restu
Pembimbing: Dasapta Erwin Irawan, Arif Susanto
Afiliasi: Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung

Penelitian geologi dan hidrogeologi berada di Daerah Kertamukti dan sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pemetaan geologi dan hidrogeologi, serta analisis kandungan fisik maupun kimia airtanah yang dilakukan di laboratorium bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi, karakteristik airtanah, kualitas airtanah, proses yang memengaruhi kimia airtanah, dan laju infiltrasi airtanah. Geomorfologi daerah penelitian terdiri dari enam satuan yaitu Satuan Dataran Piroklastik Sirnaraja, Satuan Perbukitan Piroklastik Pasir Reubun, Satuan Lembah Antiklin Cipanengah, Satuan Punggungan Homoklin Pasir Dogdog, Satuan Lembah Sinklin Sumurbandung dan Satuan Kubah Lava Cimangsud. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari tujuh satuan tidak resmi dengan urutan tua ke muda yaitu Satuan Batulempung 1, Satuan Batupasir, Satuan Batulempung 2, Satuan Breksi Piroklastik, Satuan Kubah Lava Andesit, Satuan Tuf, dan Satuan Breksi Laharik.

Struktur daerah penelitian terdiri dari empat struktur yaitu Antiklin Cicendo,
Sinklin Sumur Bandung, Sesar Mengiri Naik Cicendo, dan Sesar Mengiri Normal
Pasir Dogdog. Daerah penelitian terbagi menjadi tujuh satuan hidrogeologi, yaitu Akuifer Batulempung 1, Akuifer Batupasir, Akuifer Batulempung 2, Akuifer
Breksi Piroklastik, Akuifer Tuf, Akuifer Breksi Laharik, dan Satuan Akuiklud. Laju
infiltrasi pada tanah pelapukan tuf adalah 25, cm/jam atau Fast. Laju infiltrasi pada tanah pelapukan breksi laharik adalah 16,5 cm/jam. Laju infiltrasi pada tanah pelapukan breksi piroklastik adalah 15 cm/jam. Laju infiltrasi pada tanah pelapukan batupasir adalah 12,9 cm/jam. Laju infiltrasi pada tanah pelapukan batulempung adalah 4,38 cm/jam. Laju infiltrasi pada tanah pelapukan andesit adalah 4,29 cm/jam. Terdapat banyak titik yang tidak memenuhi baku mutu air minum berdasarkan parameter pH, sedangkan untuk parameter TDS semua titik layak untuk diminum. Hampir semua sampel airtanah layak untuk keperluan irigasi berdasarkan parameter NA%, SAR, RSC, dan Total Hardness.

Kata kunci: #BandungBarat, #airtanah, #akuifer, #infiltrasi, #airminum, #irigasi

ANALYSIS OF GROUNDWATER QUALITY AND INFILTRATION IN
KERTAMUKTI-SIRNARAJA AREA, WEST BANDUNG REGENCY,
WEST JAVA PROVINCE
By:
Adhi Restu Pamungkas
NIM 12018071
ABSTRACT
Geological and hydrogeological research located in Kertamukti and surrounding,
West Bandung Regency, West Java Province. This research was conducted using
geological and hydrogeological mapping methods, analysis of the physical and
chemical content of groundwater. This research aims to know geological
conditions, groundwater characteristics, groundwater quality, the processes that
affect groundwater chemistry, and groundwater infiltration rates. Geomorphology
of the research area consists of six units, they are Sirnaraja Pyroclastic Plants,
Pasir Reubun Pyroclastic Hills, Cipanengah Anticline Valley, Pasir Dogdog
Homocline Ridge, Sumurbandung Sincline Valley and Cimangsud Lava Dome. The
stratigraphy of the research area consists of seven unofficial rock units, they are
Claystone Unit 1, Sandstone Unit, Claystone Unit 2, Pyroclastic Breccia Unit,
Andesite Lava Unit, Tuff Unit and Laharic Breccia Unit. Geologycal structures of
the study area consists of four structures, they are Cicendo Anticline,
Sumurbandung Syncline, Cicendo Sinistral Strike-Slip Fault, and Sinistral Pasir
Dogdog Strike-Slip Fault. The research area is divided into seven hydrogeological
units, they are Claystone Aquifer, Sandstone Aquifer, Pyroclastic Breccia Aquifer,
Tuff Aquifer, Laharic Breccia Aquifer, and Aquiclude Unit. Infiltration rate on tuff
weathered soil is 25,3 cm/hour. Infiltration rate on laharic breccia weathered soil
is 16,5 cm/hour. Infiltration rate on pyroclastic breccia weathered soil is 15
cm/hour. Infiltration rate on sandstone weathered soil is 12,9 cm/hour. Infiltration
rate on claystone weathered soil is 4,38 cm/hour. Infiltration rate on andesite
weathered soil is 4,29 cm/hour. There are many groundwater samples that did not
meet drinking water quality standards based on pH parameters, while for TDS
parameters all groundwater sample are suitable for drinking. Almost all
groundwater samples are suitable for irrigation purposes based on the parameters NA%, SAR, RSC, and Total Hardness.

482627ef66f15a078118328915d9d092?s=128

Dasapta Erwin Irawan

June 14, 2022
Tweet

More Decks by Dasapta Erwin Irawan

Other Decks in Science

Transcript

  1. Analisis Kualitas Airtanah dan Infiltrasi Daerah Kertamukti - Sirnaraja, Kabupaten

    Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat 12018071 Adhi Restu Pamungkas Dosen Pembimbing : Dr. Dasapta Erwin Irawan, S.T., M.T. Tugas Akhir B 1
  2. Kerangka Presentasi Pendahuluan Geologi dan Hidrogeologi Regional Geologi Daerah Penelitian

    Studi Infiltrasi Kesimpulan Hidrogeologi dan Kualitas Airtanah Sintesis Geologi 2
  3. PENDAHULUAN 1 3

  4. Latar Belakang Lokasi tidak jauh dari lokasi TPA Sarimukti, sekitar

    2 km. Masyarakat masih menggantungkan keperluan air dari airtanah yang bersumber dari sumur dan mata air setempat. Ditemukannya sampah domestik di sekitar sungai. 4
  5. Tujuan 1. Mengidentifikasi tatanan geologi daerah penelitian. 2. Mengidentifikasi kondisi

    hidrogeologi daerah penelitian. 3. Mengidentifikasi kualitas airtanah daerah penelitian. 5
  6. Daerah Penelitian Koordinat : ± 9246758-9252797 mN dan ± 762224-767310

    mE Zona 48S Elevasi : 200-650 mdpl Luas : ± 30 km2 Desa Kertamukti, Kec. Cipatat - Desa Sirnaraja, Kecamatan Cipeundeuy, Kab. Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. : Daerah penelitian 6 0 1 2 km 0 1 2 km
  7. A = Tahap Persiapan Penelitian B = Tahap Pengambilan Data

    Lapangan C = Tahap Analisis dan Hasil Data A B C 1 Diagram Alir Penelitian 7
  8. C = Tahap Analisis dan Hasil Data D = Tahap

    Penyusunan Laporan C D 1 Keluaran/ masukan Awal/akhir Proses Diagram Alir Penelitian 8 Keputusan
  9. ** No. Data Jumlah Tipe 1 Deskripsi singkapan 109 Primer

    2 Sampel petrografi batuan 7 Primer 3 Sifat fisik air tanah (pH, Total Dissolved Solids (TDS), Electrical Conductivity (EC), dan temperatur) 30 Primer 4 Sampel hidrokimia 4 Primer 5 Titik uji infiltrasi 11 Primer 6 Debit air tanah 30 Primer Tabulasi Data 9
  10. GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI REGIONAL 2 10

  11. Fisiografi Regional Secara fisiografi, daerah penelitian termasuk ke dalam Zona

    Bogor dan Zona Gunung Api Kuarter (Van Bemmelen (1949) dalam Martodjojo, 1984) Daerah penelitian 11
  12. Geologi dan Stratigrafi Regional 12

  13. Hidrogeologi Regional 13

  14. GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3 14

  15. LINTASAN GEOLOGI 15

  16. GEOMORFOLOGI 16

  17. GEOMORFOLOGI Titik Pengamatan B T TG BL Satuan Punggungan Homoklin

    Satuan Kubah Lava 17
  18. GEOMORFOLOGI Titik Pengamatan B T BD TL Satuan Perbukitan Piroklastik

    Satuan Dataran Piroklastik 18
  19. GEOMORFOLOGI Titik Pengamatan S U Satuan Lembah Antiklin 19 Satuan

    Lembah Sinklin S U
  20. TAHAPAN GEOMORFOLOGI Berdasarkan Davis (1889) dalam Huggett (2011), pada daerah

    penelitian tahapan yang telah terjadi termasuk ke dalam tahapan muda-dewasa. • Tahapan muda pada daerah penelitian ditandai dengan lembah sungai berbentuk V, dijumpai air terjun, dan aliran air cukup deras. • Tahapan dewasa pada daerah penelitian ditandai dengan lembah dan sungai berbentuk U. 20
  21. TAHAPAN GEOMORFOLOGI Tahapan Geomorfik Muda B T B T 21

  22. TAHAPAN GEOMORFOLOGI Tahapan Geomorfik Dewasa T U S U S

    22
  23. PETA GEOLOGI 23

  24. PENAMPANG GEOLOGI 24

  25. KOLOM STRATIGRAFI 25

  26. STRATIGRAFI 1. Satuan Batulempung 1 Sisipan batupasir Wavy lamination U

    S U S 26 Terdiri dari litologi batulempung dengan sisipan batupasir. Batulempung berwarna abu-abu, butir ukuran lempung (< 0,004 mm), terdapat sisipan batupasir berwarna coklat keabu-abuan, ukuran butir pasir sedang-kasar (0,25 mm - 1 mm), terdapat struktur parallel lamination dan wavy lamination.
  27. STRATIGRAFI 2. Satuan Batupasir B T U 33 cm S

    U Kode Sampel: AD07-03 Nama Satuan : Satuan Batupasir Nama Batuan : Feldspathic wacke berdasarkan Pettijohn (1975) 27 Terdiri dari litologi batupasir dan batupasir breksian setempat. Batupasir berwarna coklat keabu-abuan, ukuran butir pasir halus - sedang (0,125 mm – 0,5 mm), membundar-membundar tanggung, sortasi baik, kemas terbuka, porositas baik. Batupasir terdiri dari komponen feldspar (J3), kuarsa (C5), mineral opak (G4), muskovit (C2), dan mineral lempung yang mengisi rongga antar butir. Batupasir breksian, berwarna coklat keabu-abuan, umumnya lapuk, fragmen berukuran kerakal-berangkal (4 mm – 256 mm),menyudut tanggung-menyudut, tertanam dalam matriks pasir ukuran sedang-kasar (0,25 - 1 mm).
  28. STRATIGRAFI 3. Satuan Batulempung 2 28 Terdiri dari litologi batulempung.

    Berdasarkan pengamatan megaskropis Batulempung berwarna abu-abu, umumnya segar, butir ukuran lempung (< 0,004 mm) sortasi baik, porositas buruk.
  29. STRATIGRAFI 4. Satuan Kubah Lava Andesit Terdiri dari litologi andesit

    yang membentuk morfologi kubah, andesit hadir di beberapa tempat sebagai autobreksi berwarna abu-abu gelap, hipokristalin, tekstur porfiritik, inequigranular, komponen terdiri dari plagioklas (E2), piroksen (C8), mineral opak (A7), kuarsa (D7), masa dasar berupa gelas vulkanik . B T Kode Sampel: AD07-09 Nama Satuan : Satuan Andesit Nama Batuan : Andesit berdasarkan Russel B Travis (1955) 29 S U
  30. STRATIGRAFI 5. Satuan Breksi Piroklastik Terdiri dari litologi breksi piroklastik,

    berwarna coklat keabu-abuan, jenis fragmen berupa andesit berukuran kerakal-berangkal (4 mm – 256 mm), menyudut tanggung-menyudut, sortasi sedang, kemas terbuka, tertanam dalam matriks berupa tuf berukuran debu halus berwarna coklat keabu abuan (< 2 mm). 33 cm S U 30
  31. STRATIGRAFI Kode Sampel: AD05-11 Nama Satuan : Satuan Breksi Piroklastik

    Nama Batuan : Andesit berdasarkan Russel B Travis (1955) Hadir sebagai fragmen Satuan Breksi Piroklastik, andesit, hipokristalin, tekstur porfiritik, inequigranular, tersusun plagioklas (E2), piroksen (C8), mineral opak (A7), kuarsa (D7), dan massa dasar tersusun atas gelas. 31 Kode Sampel: AD05-11 Nama Satuan : Satuan Breksi Piroklastik Nama Batuan : Tuf kristal berdasarkan Pettijohn (1975) Hadir sebagai matriks Satuan Breksi Piroklastik, Tuf kristal (Pettijohn,1975), terpilah buruk, kemas terbuka. Terdiri dari kristal (60%) berupa Piroksen (C3), plagioklas (H4), kuarsa (J4), mineral opak (A8), fragmen batuan (E7), dan gelas volkanik.
  32. STRATIGRAFI 6. Tuf Terdiri dari litologi tuf berwarna coklat terang,

    ukuran debu halus- debu kasar (<2 mm), terpilah sedang-buruk, kemas terbuka. Terdiri dari kuarsa (A4), mineral opak (E3), plagioklas (A7), fragmen batuan (B8), dan gelas vulkanik. 165cm T B U S T B Kode Sampel: AD02-12 Nama Satuan : Satuan Tuf Nama Batuan : Tuf gelas berdasarkan Pettijohn (1975) 32
  33. STRATIGRAFI 7. Breksi laharik TL BD 33 Kode Sampel: AD10-01

    Nama Satuan : Satuan Breksi Laharik Nama Batuan : Tuf gelas berdasarkan Pettijohn (1975) Hadir sebagai matriks Satuan Breksi laharik, tuf gelas, terpilah buruk, kemas terbuka. Terdiri dari plagioklas (E5), piroksen (H5), kuarsa (F1), mineral opak (H7), fragmen batuan (C3), dan gelas vulkanik. Terdiri dari litologi breksi laharik, berwarna coklat keabu-abuan, fragmen polimik berukuran kerakal-berangkal (4 mm – 256 mm), membundar tanggung-menyudut tanggung, sortasi sedang, kemas terbuka, tertanam dalam matriks berupa tuf berukuran debu halus berwarna coklat terang (< 2 mm).
  34. STRUKTUR GEOLOGI 34 Movement plane Net slip Shear Fracture Shear

    Fracture Pitch Nama sesar berdasarkan Rickard (1972) Reverse Left Slip Fault Sesar Mengiri Naik Cicendo
  35. STRUKTUR GEOLOGI 35 Sesar Mengiri Normal Pasir Dogdog Normal Left

    Slip Fault Movement plane Net slip Movement plane Net slip Shear Fracture Shear Fracture Pitch Nama sesar berdasarkan Rickard (1972) Normal Left Slip Fault Sesar Mengiri Normal
  36. STRUKTUR GEOLOGI 36 Sinklin Sumurbandung Jenis lipatan Berdasarkan Fleuty (1964)

    Upright Horizontal Fold
  37. STRUKTUR GEOLOGI 37 Antiklin Cicendo Jenis lipatan Berdasarkan Fleuty (1964)

    Upright Horizontal Fold
  38. STRUKTUR GEOLOGI Sesar Mengiri Naik Cicendo Sesar Mengiri Normal Pasir

    Dogdog Sinklin Sumurbandung Antiklin Cicendo 38
  39. HIDROGEOLOGI DAN KUALITAS AIRTANAH 4 39

  40. HIDROGEOLOGI 40 BPS-1

  41. HIDROGEOLOGI ,, 41

  42. TIPOLOGI AKUIFER Mandel dan Shiftan (1981) (Kruseman, 1994) HIDROGEOLOGI 42

  43. JENIS MATA AIR 43

  44. SATUAN AKUIFER Satuan Akuifer Batulempung 1 44

  45. SATUAN AKUIFER Satuan Akuifer Batupasir 45

  46. SATUAN AKUIFER Satuan Akuifer Batulempung 2 46

  47. SATUAN AKUIFER Satuan Akuifer Breksi Piroklastik 47

  48. SATUAN AKUIFER Satuan Akuifer Tuf 48

  49. SATUAN AKUIFER Satuan Akuifer Breksi Laharik 49

  50. SATUAN AKUIFER Satuan Akuiklud 50 Satuan ini berada di sekitar

    bukit Cimangsud dengan litologi berupa andesit. Satuan ini dimasukkan ke peta hidrogeologi daerah penelitian atas dasar tidak ditemukannya mata air di lokasi menurut pencarian dengan ditemani warga sekitar yang mengetahui wilayah tersebut. Hal ini dapat disebabkan oleh tanah pelapukan batuan belum terlalu tebal sehingga kurang dapat menyimpan dan mengalirkan air dengan jumlah yang ekonomis.
  51. KUALITAS AIRTANAH TABULASI DATA PRIMER X Y Nama MAT (m)

    pH TDS (ppm) Temp (°C) Debit (L/s) Jenis 763634 9246856 MA-01 364,41 7,68 56 24,3 <0,12 Mata air 764257 9247896 MA-02 381 7,85 297 24 <0,12 Mata air 765253 9248664 MA-03 440,36 6,9 337 23,8 <0,12 Mata air 764638 9249017 MA-04 352,36 7,7 152 23 <0,12 Mata air 764434 9249205 MA-05 415,12 6,67 234 25,2 0,15 Mata air 763640 9249257 MA-06 423,16 7,2 195 24,5 <0,12 Mata air 764032 9249089 MA-07 359,25 7,6 232 24,3 0,12 Mata air 763482 9247930 MA-08 348 7,3 189 23,8 <0,12 Mata air 764345 9249659 MA-09 431,25 6,78 105 23,8 <0,12 Mata air 763687 9250788 MA-10 366,92 6,43 103 24,4 0,21 Mata air 763247 9250873 MA-11 341 6,83 104 24,7 0,24 Mata air 762341 9250278 MA-12 281 6,61 118 24,6 0,37 Mata air 762666 9251322 MA-13 341,1 6,1 71 23,7 <0,12 Mata air 762557 9251438 MA-14 338 5,87 62 24 <0,12 Mata air 763321 9252018 SG-01 370 6,07 115 23,5 <0,12 Sumur Gali 763563 9251777 SG-02 370,2 6,15 120 23,4 <0,12 Sumur Gali 763641 9252094 MA-15 362,5 6,05 76 25,7 <0,12 Mata air 764828 9251620 MA-16 397 6,31 131 26 0,2 Mata air 765031 9251482 MA-17 397,4 6,29 100 24,7 0,26 Mata air 765963 9251237 MA-18 430,3 6,2 70 23,9 <0,12 Mata air 766346 9251572 MA-19 439,2 5,9 66 25,3 0,18 Mata air 767296 9252169 MA-20 485,5 6,45 38 24,9 <0,12 Mata air 767186 9249869 MA-21 583 6,68 68 24,4 <0,12 Mata air 767142 9249883 SG-03 582 5,84 68 23,2 <0,12 Sumur Gali 767203 9249374 SG-04 575,5 6,2 72 23,6 <0,12 Sumur Gali 767168 9247668 SG-05 472 6,4 75 24 <0,12 Sumur Gali 766763 9247590 MA-22 471 6.25 71 25.2 <0.12 Mata air 766134 9246853 SG-06 438 6.61 51 23.7 <0.12 Sumur Gali 766338 9248022 MA-23 475.2 6.7 69 24.7 <0.12 Mata air 765284 9248347 MA-24 440 6.9 332 24 <0.12 Mata air 51
  52. KUALITAS AIRTANAH PETA PH 0 5 10 15 20 <6.5

    6.5-7 7-7.5 >7.5 Jumlah Sampel Air Rentang pH pH Baku Mutu Air Minum menurut PERMENKES RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 pH 6.5-8.5 52
  53. KUALITAS AIRTANAH PETA TDS 0 5 10 15 Jumlah Sampel

    Air Rentang TDS TDS Baku Mutu Air Minum menurut PERMENKES RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 TDS < 500 ppm 53
  54. KUALITAS AIRTANAH KUALITAS AIR UNTUK IRIGASI (Wilcox, 1955) Hasil analisis

    dapat dilihat di tabel berikut. 1. Sodium Percentage (Na%) Sampel %Na Keterangan SG-02 29,65 Good SG-03 29,67 Good MA-03 20,63 Good MA-10 26,97 Good Kelas Air Persen Sodium (Na%) Excellent <20 Good 20-40 Permissible 40-60 Doubtful 60-80 Unsuitable >80 54
  55. KUALITAS AIRTANAH KUALITAS AIR UNTUK IRIGASI 2. Sodium Adsorption Ratio

    (SAR) Hasil analisis dapat dilihat di tabel berikut. SAR Kategori < 10 Excellent 10 - 18 Good 18 - 26 Doubtful > 26 Unsuitable (Todd, 1980) Sampel SAR Keterangan SG-02 0,58 Excellent SG-03 0,5 Excellent MA-03 0,88 Excellent MA-10 0,55 Excellent 55
  56. KUALITAS AIRTANAH KUALITAS AIR UNTUK IRIGASI 3. Residual Sodium Carbonate

    (RSC) Hasil analisis dapat dilihat di tabel berikut. (Eaton, 1950 dalam Vasanthavigar dkk., 2010) RSC Kategori < 1,25 Good 1,25 – 2,5 Doubtful >2,5 Unsuitable Sampel RSC Keterangan SG-02 0,58 Good SG-03 0,31 Good MA-03 2,20 Doubtful MA-10 1,02 Good 56
  57. KUALITAS AIRTANAH KUALITAS AIR UNTUK IRIGASI 4. Total Hardness Hasil

    analisis dapat dilihat di tabel berikut. (Todd, 1980) TH (mg/L) Kategori < 75 Soft 75 – 150 Moderately 150-300 Hard > 300 Very Hard Sampel TH Keterangan SG-02 80,16 Moderately SG-03 56,34 Soft MA-03 264,04 Hard MA-10 80,06 Moderately 57
  58. KUALITAS AIRTANAH DIAGRAM PIPER 58

  59. KUALITAS AIRTANAH DIAGRAM STIFF 59

  60. KUALITAS AIRTANAH REAKSI KIMIAWI AIRTANAH (Chadha, 1999) SG-02 MA-10 MA-03

    SG-03 -100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 -100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 HCO3 -(SO4 +Cl) meq/L percentage (%) (Ca++Mg2+)-(Na++K+) meq/L percentage (%) Recharge Water Base Ion Exchange Water Sea Water Reverse Ion Exchange Water 60
  61. KUALITAS AIRTANAH (dimodifikasi dari Gibbs, 1970) 61

  62. STUDI INFILTRASI 5 62

  63. STUDI INFILTRASI Infiltration Rate (centimeter/hour) Infiltration Rate Classification >50,80 Very

    Fast 15,24-50,80 Fast 5,08-15,24 Moderate Fast 1,52-5,08 Moderate 0,51-1,52 Moderate Slow 0,15-0,51 Slow 0,004-0,15 Very Slow <0,004 Impermeability (Martinez, 2017) 63
  64. STUDI INFILTRASI Tanah pelapukan batuan Rata-rata Laju Infiltrasi (cm/menit) Laju

    infiltrasi (cm/jam) Klasifikasi Tuf 0,43 25,8 Fast Breksi Laharik 0,275 16,5 Moderate Fast Breksi Piroklastik 0,25 15 Moderate Fast Batupasir 0,215 12,9 Moderate Fast Batulempung 0,073 4,38 Moderate Andesit 0,0715 4,29 Moderate Hasil uji infiltrasi berdasarkan Martinez (2017) 64
  65. SINTESIS GEOLOGI 6 65

  66. SINTESIS GEOLOGI 66 Berdasarkan interpretasi dari data yang ditemukan dilapangan,

    satuan yang diendapkan pertama kali yaitu Satuan Batulempung 1, lalu setelahnya diendapkan Satuan Batupasir dengan mekanime turbidit. Satuan tersebut ditafsirkan diendapkan di kipas laut dalam bagian atas (Widyastuti dkk, 2016). Hal ini didukung dengan kemunculan batupasir breksian, selanjutnya pengendapan batulempung terus terjadi, arus turbidit yang berasal dari pengaruh gravitasi menjadi mengecil dan terendapkan Satuan Batulempung 2. Selanjutnya terjadi tegangan utama berarah Utara – Selatan yang mengakibatkan terbentuknya struktur berupa lipatan. Tegangan utama ini berasal dari aktivitas tektonik yang berubah menjadi tektonik kompresi pada Kala Pliosen Awal yang dipicu oleh berpindahnya busur vulkanik ke tengah Pulau Jawa (Martodjojo, 1984). Aktivitas magmatisme juga meningkat di Cekungan Bogor pada Kala Pliosen Awal (Koesoemadinata, 2020). Aktivitas magmatisme ini mengakibatkan letusan eksplosif gunungapi sehingga menyebabkan Satuan Breksi Piroklastik terendapkan secara tidak selaras.
  67. SINTESIS GEOLOGI 67 Pada Kala Pliosen hingga Plistosen terus terjadi

    pengangkatan secara regional (Martodjojo, 1984). Pengangkatan yang terjadi mengakibatkan terbentuknya bidang bidang lemah sehingga menyebabkan magma dalam bumi menerobos keluar dan menghasilkan Satuan Kubah Lava Andesit. Tektonik kompresi dan pengangkatan secara regional pada daerah penelitian akhirnya menyebabkan terbentuknya sesar-sesar mendatar. Selanjutnya dengan adanya intrusi dan pengangkatan secara regional, hal ini mengakibatkan di daerah penelitian terjadi erosi secara intensif dan mengakibatkan satuan batuan daerah penelitian tersingkap, Pada daerah penelitian terjadi gejala vulkanisme disaat Plistosen, hal ini terjadi dikarenakan erupsi dari Gunung Pra-Sunda yang mengakibatkan aktivitas vulkanisme secara regional (Kartadinata, 2009). Selanjutnya diendapkan Satuan Tuf dan Breksi Laharik sebagai hasil dari erupsi Gunung Pra-Sunda. Satuan ini menjadi mayoritas akuifer daerah penelitian yang memiliki karakteristik akuifer dangkal.
  68. KESIMPULAN 6 68

  69. KESIMPULAN Geomorfologi daerah penelitian terdiri dari enam satuan yaitu Satuan

    Dataran Piroklastik Sirnaraja, Satuan Perbukitan Piroklastik Pasir Reubun, Satuan Lembah Antiklin Cipanengah, Satuan Punggungan Homoklin Pasir Dogdog, Satuan Lembah Sinklin Sumurbandung dan Satuan Kubah Lava Cimangsud Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari tujuh satuan tidak resmi dengan urutan tua ke muda yaitu Satuan Batulempung 1, Satuan Batupasir, Satuan Batulempung 2, Satuan Breksi Piroklastik, Satuan Kubah Lava Andesit, Satuan Tuf, dan Satuan Breksi Laharik. Struktur daerah penelitian terdiri dari empat struktur yaitu Antiklin Cicendo, Sinklin Sumurbandung, Sesar Mengiri Naik Cicendo, dan Sesar Mengiri Normal Pasir Dogdog. 69 1.
  70. KESIMPULAN Daerah penelitian terbagi menjadi Tujuh satuan hidrogeologi, yaitu Akuifer

    Batulempung 1, Akuifer Batupasir, Akuifer Batulempung 2, Akuifer Breksi Piroklastik, Akuifer Tuf, Akuifer Breksi Laharik, dan Satuan Akuiklud. Jenis akuifer berupa akuifer tak tertekan/bebas yang memiliki pola aliran umumnya mengikuti pola kontur topografi. Laju infiltrasi pada tanah pelapukan tuf adalah 25,3 cm/jam (Fast). Laju infiltrasi pada tanah pelapukan breksi laharik adalah 16,5 cm/jam (Moderate Fast). Laju infiltrasi pada tanah pelapukan breksi piroklastik adalah 15 cm/jam (Moderate Fast). Laju Infiltrasi pada tanah pelapukan batupasir adalah 12,9 cm/jam (Moderate Fast). Laju Infiltrasi pada tanah pelapukan batulempung adalah 4,38 cm/jam (Moderate). Laju Infiltrasi pada tanah pelapukan andesit adalah 4,29 cm/jam (Moderate). Dari empat sampel airtanah didapatkan fasies dari airtanah di wilayah penelitian termasuk kedalam fasies Kalsium Bikarbonat (Ca(HCO3 )2 ). Proses-proses yang memengaruhi kimia airtanah daerah penelitian yaitu, pengaruh air hujan/permukaan, pelapukan mineral silikat, dan pertukaran ion terbalik. 2. 70
  71. KESIMPULAN Air di daerah penelitian baik berasal dari mata air,

    maupun sumur gali memiliki sifat tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Berdasarkan Baku Mutu Air Minum menurut PERMENKES RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 terkait parameter TDS dan pH, 14 titik yang mayoritas berada di bagian Utara daerah penelitian tidak memenuhi persyaratan dalam parameter pH, sedangkan berdasarkan parameter TDS menunjukan semua mata air dan sumur gali memenuhi persyaratan kualitas air minum. Kualitas air untuk keperluan irigasi dari empat sampel yang diambil dan telah melewati beberapa perhitungan berdasarkan kandungan ion dan sifat fisik. Hasilnya adalah semua sampel dapat digunakan untuk keperluan irigasi dengan cukup baik, namun terdapat satu sampel yaitu MA-03 pada pengujian RSC termasuk kategori doubtful untuk keperluan irigasi. 3. 71
  72. THANK YOU 72

  73. REFERENSI 73 Abidin, D.Z. (1998). Hubungan infiltrasi dan sifat fisik

    tanah pada endapan hasil gunungapi Kuarter daerah Bandung Utara. Bandung: Tesis Magister Institut Teknologi Bandung. Alimah, I., dan Putro Heru P.H., (2014). Kajian Tingkat Konsumsi Air Bersih PDAM di Provinsi Jawa Barat. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2. Bemmelen, R.W.van. (1949). The Geology of Indonesia. The Hague: Government printing Office. Brahmantyo, B. dan Bandono. (2006): Klasifikasi bentuk muka bumi (landform) untuk pemetaan geomorfologi pada skala 1:25.000 dan aplikasinya untuk penataan ruang. Jurnal Geoaplika Vol. 1, No. 2, pp. 71–78. Bronto, S., dan Koswara, A. (2006): Stratigrafi Gunung Api Daerah Bandung Selatan, Jawa Barat, 1(2), 13. Chadha, D. K. (1999). A proposed new diagram for geochemical classification of natural waters and interpretation of chemical data. Hydrogeology Journal, 7(5), 431–439 Davis, S.N. dan De Wiest, R.J.M. (1966) Hydrogeology, Vol. 463. Wiley, New York. Eaton, F. M., (1950). Significance of carbonates in irrigation waters. Soil science, 69(2), 123-134 Fetter, C.W. (2014). Applied hydrogeology fourth edition. USA: Prentice-Hall Inc. Fleuty, M. J. (1964). The Description of Folds. London: Proceedings of the Geologists Association 75: 461–492. Freeze, R.A dan Cherry, J.A. (1979). Groundwater. USA: Prentice-Hall Inc. Gibbs, R. (1970). Mechanism Controlling World River Water Chemistry. Science, Vol. 170, No. 3962, pp. 1088-1090. American Association for the Advancement of Science Hem, J.D. (1991). Study and interpretation of the chemical characteristics of natural waters (third edition). Jodphur: Scientific Publishers. Horton, R.E. (1941). An approach toward a physical interpretation of infiltration-capacity. Soil Science Society of America Journal, 5C, 399– 417. Hounslow, A.W. (1995). Water quality data analysis and interpretation. Florida: CRC Press.
  74. REFERENSI Huggett, R. J. (2011). Fundamentals of geomorphology third editon.

    USA: Routledge. Irawan, D.E., dan Puradimaja, D.J. (2012): Lembar Kerja Hidrogeologi Umum Kelompok Keahlian Geologi Terapan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, 117. Kartadinata, M.N. (2009). Tephrochronological Study on Eruptive History Old Sunda-Tangkuban Perahu Volcanic Complex, West Java, Indonesia. Jurnal Gunungapi dan Mitigasi Bencana Geologi Vol. 1, No.1 Kruseman, G.P. (1994). Analysis & evaluation of pumping test data. Wegeningen, The Netherlands: Publication 47 Mandel, S. (1981). Groundwater resources: investigation and development. Hebrew University of Jerusalem, Israel: Groundwater Research Center. Martinez, C. (2017): Identification and characterization of regional water flows contributing to the recharge of an unconfined aquifer. Revista Faculted de Ingenieria, 85, 70-85. Martodjojo, S., (1984). Evolusi Cekungan Bogor. Institute Technology Bandung, Bandung: Unpublished Doctoral Thesis. Pasaribu, M., Mudiana W., dan Sunarya Y. (1998). Peta hidrogeologi Indonesia, lembar Cianjur 1209-2 skala 1:100.000. Bandung: Direktorat Geologi Tata Lingkungan. Peraturan Menterti Kesehatan No. 492/MENKES/PER/VI/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. (2010). Jakarta: Lembaga Negara Republik Indonesia. Pettijohn, F.J. (1975). Sedimentary rocks, third edition. New York: Harper and Row. Piper, A.M., (1944). A graphic procedure in the geochemical interpretation of water analyses, Transition, American Geophysical union, 25, 914 – 923 Ramesh, K. and Jagadeeswari, B., 2013. Contamination of Groundwater Due to Solid Waste Disposal and Textile Effluent in and Around Erode City, Tamil Nadu. International Journal of Research in Chemistry and Environment, 3(1), 262-271. Sudjatmiko. (1972). Peta geologi lembar Cianjur skala 1:100.000. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. 74
  75. REFERENSI Sunardi, E., Kimura, J. (1998) Temporal chemical variations in

    late Cenozoic volcanic rocks around The Bandung Basin, West Java, Indonesia. Journal of Mineralogy, Petrology and Economic Geology, 93 (4). 103-128 Sunardi, E. dan Koesoemadinata, R. P. (1999). New K-Ar Ages and The Magmatic Evolution of The Sunda-Tangkuban Perahu Volcano Complex Formations, West Java, Indonesia. In Proceedings of the 28th Annual Convention IAGI, Jakarta .Vol. 30, pp. 63-71. Thornbury. (1970). Principle of Geomorphology. New York: John Willey and Sons, Inc. Todd, D.K. (1980) Groundwater Hydrology. 2nd Edition, John Wiley & Sons, New York. Travis, R. B. (1955). Classification of Rocks. Colorado School of Mines. Twidale, C. R. (2004). River Pattern and Their Meaning. Earth Science Riviews 67, 159-218. Widyastuti, Sari., Abdurrokhim., Sendjaja, Yoga A. (2016). Asal Sedimen Batupasir Formasi Jatiluhur Dan Formasi Cantayan Daerah, Tanjungsari Dan Sekitarnya, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Bandung. Bulletin of Scientific Contribution, Volume 14, Nomor 1, April 2016: 25 -32 Wilcox, L.V. (1955) Classification and Use of Irrigation Water. US Department of Agriculture, Circular 969, Washington DC. Zuidam, R.V. (1985). Guide to geomorphic aerial photographic interpretation and mapping. The Hague, The Netherlands: Institute for Aerospace Survey and Earth Science Daftar Pustaka dari Situs Internet: Badan Informasi Geospasial: DEMNAS. diperoleh melalui situs https://tanahair.indonesia.go.id/demnas/#/ 75