melalui sang nabi: Yesus Malaikat itu Yohanes Allah menyampai menyampai menuangka menyampai kan pesan kan pesan n pesan ke kan pesankepada kepada dalam Nya kepada seorang Yohanes, bentuk Yesus malaikat sang nabi. tulisan. Namun, ini bukanlah satu-satunya cara Allah menyatakan diri-Nya kepada para nabi, bukan pula satu-satunya cara pesan ilahi disampaikan melalui mereka. Kita akan mempelajari berbagai cara Allah menyatakan diri-Nya kepada para nabi dan menginspirasi mereka.
keberadaan Allah “tidak dapat berdalih,” karena alam menyatakan “sifat-sifat-Nya yang tidak kelihatan […] kuasaNya yang kekal serta keilahian-Nya” (Rm. 1:20; Mzm. 19:1). Kita dapat melihat bagaimana Allah telah mengantisipasi masuknya dosa melalui kuasa regenerasi yang Ia tanamkan dalam makhluk hidup. Saat kita terluka, berbagai mekanisme akan aktif untuk menutup luka tersebut dan meregenerasi jaringan tubuh. Menariknya, mekanisme-mekanisme itu sudah ada bahkan sebelum cedera tersebut terjadi! Namun alam, sejak kejatuhan Adam dan Hawa, juga menanggung konsekuensi dosa (predasi, gempa bumi, …) Allah telah menggunakan cara-cara yang lebih langsung untuk menyatakan diri-Nya: wahyu khusus melalui para nabi dan Yesus Kristus, sebagaimana tercatat dalam Alkitab, yaitu Firman Allah (Ibr. 1:1-2).
lisan, hingga Tuhan mengilhami Musa untuk mencatat perbuatan serta perkataan tersebut dalam bentuk tulisan. Sejak saat itu, pesan-pesan yang dikehendaki Allah untuk dilestarikan ditulis oleh orang-orang yang “diilhami”—artinya, mereka dibimbing oleh Roh Kudus (2 Petrus 1:21). Hal ini menjadikan Alkitab sebagai kitab yang unik, yang memuat wahyu ilahi secara lengkap. Seperti apa proses inspirasi ini?
manusia dalam empat kesempatan: Adam dan Hawa (Kej. 2:16-17) Saat memberikan Sepuluh Perintah Allah (Ulangan 4:12) Pada saat pembaptisan Yesus (Mat. 3:17) Dalam peristiwa transfigurasi (Markus 9:7) Di pihak mereka, para nabi menyampaikan secara lisan perkataan yang diberikan oleh Allah, dengan menyatakan dengan jelas: ”Beginilah firman Tuhan” (Hak. 6:8). Pesan-pesan ini—seperti dalam kasus Nuh—tidak selalu dicatat dalam bentuk tulisan. Kita hanya mengetahui perkataan banyak nabi melalui tulisan orang lain, namun mereka memiliki otoritas yang sama dengan mereka yang meninggalkan pesan-pesan mereka dalam bentuk tertulis. Di antara mereka adalah Natan, Elia, Elisa, dan Yohanes Pembaptis.
pesan-Nya dalam bentuk tertulis? Untuk mengenang peristiwa-peristiwa tersebut (Kel. 17:14) Untuk mengajar kita (Pkh. 12:10) Untuk mengundang kita kepada pertobatan (Yer. 36:2-3) Memberi kita teladan untuk ditiru atau ditolak (1 Kor. 10:11) Agar kita dapat mengetahui masa depan (Wahyu 1:19) Di dalam Alkitab, para nabi mengungkapkan reaksi manusiawi mereka sendiri, maupun reaksi orang lain. Alkitab memuat puisi, catatan sejarah, dan khotbah tertulis. Terkadang, di dalamnya juga terdapat kutipan dari penulis non-alkitab atau dekret dari raja-raja kafir. Akan tetapi, tidak ada tingkatan inspirasi di dalam Alkitab. Baik itu mencatat khotbah, peristiwa, maupun nubuat, semuanya diinspirasikan oleh Allah dan menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada kita secara setia sepanjang zaman (2 Tim. 3:16-17).
kebutuhan serta kerinduan hati manusia—sesuatu yang telah memukau dan memikat pikiranpikiran yang paling terpelajar sekalipun, sementara pada saat yang sama memampukan orang yang paling sederhana dan kurang berpendidikan untuk memahami jalan keselamatan. […] Dengan demikian, rencana penebusan dinyatakan kepada kita, agar setiap jiwa dapat melihat langkah-langkah yang harus diambil dalam pertobatan kepada Allah dan iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus, demi memperoleh keselamatan melalui cara yang telah ditetapkan oleh Allah. […] Semakin seseorang menyelidiki Alkitab, semakin dalam keyakinannya bahwa itu adalah firman Allah yang hidup, dan akal budi manusia pun tunduk di hadapan keagungan wahyu ilahi.” EGW (Steps to Christ, p. 107)
White menerima ilham ilahi. Tulisan-tulisan, kehidupan, dan pelayanannya mencerminkan sosok seorang nabi sejati. Ia memiliki ilham yang sama dengan para nabi dalam Alkitab, meskipun ia tidak pernah menganggap tulisan-tulisannya setara dengan Kitab Suci. Ia senantiasa memandang Alkitab sebagai wahyu Allah yang berotoritas dan tidak mungkin keliru. Ia menyadari bahwa proses inspirasi melibatkan interaksi antara yang ilahi dan yang manusiawi. Tuhan menyampaikan pesan-pesan-Nya, namun kemudian sang nabi meneruskan instruksi ilahi tersebut dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Ia memahami inspirasi ilahi terhadap pemikiran manusia sebagai suatu perpaduan antara wahyu ilahi dan pengalaman manusia. Ia menunjukkan bahwa tidak semua pengalaman dan komunikasi manusia yang ia sampaikan merupakan sesuatu yang diilhami. Penting untuk mengingat perbedaan ini saat membaca serta mendalami tulisan dan pengalamannya, terutama korespondensi dan buku harian miliknya.