Upgrade to Pro — share decks privately, control downloads, hide ads and more …

Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Kemerdekaan Indonesia

Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2015-2018 Konstitusi kita dibuka dengan kalimat: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

More Decks by Universitas Darma Persada 2015-2018

Other Decks in Education

Transcript

  1. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2015

    View full-size slide

  2. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2015
    Assalamualaikum Wr Wb
    MERDEKA
    MERDEKA
    MERDEKA
    Para peserta upacara, sivitas academica Universitas Darma
    Persada yang saya cintai.
    Konstitusi kita dibuka dengan kalimat: “Bahwa sesungguhnya
    kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,
    maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak
    sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
    Pada hari ini, kita semua bukan hanya sekedar memperingati,
    namun juga mensyukuri rakhmat dan karunia yang diberikan
    oleh Alloh SWT dan hasil perjuangan para pahlawan bangsa
    yang telah berhasil merebut kemerdekaan dari tangan
    penjajah.
    Apabila dibandingkan dengan pengorbanan yang telah
    diberikan oleh para pahlawan bangsa, tugas kita
    sesungguhnya lebih ringan, yaitu mengisi kemerdekaan ini
    dengan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan
    rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
    Namun demikian, sebagaimana yang disampaikan oleh
    anggota DPR RI Bapak KH. Khoirul Muna saat penutupan
    Sidang Paripurna MPR pada tanggal 14 Agustus 2015, beliau
    mengatakan, memasuki usia Republik Indonesia yang ke 70
    tahun ini rakyat Indonesia menghadapi beragam ujian berat,
    mulai dari alam yang kurang bersahabat, kekeringan di mana-
    mana, harga kebutuhan pokok yang masih melangit, ekonomi
    yang belum pulih, hingga penegakan hukum yang mencederai
    rasa keadilan rakyat.
    Di sisi lain, segelintir penguasa masih acuh tak acuh, tak
    peduli kesengsaraan rakyat, sehingga rakyat semakin berang,
    jengkel dan galau, karena para penguasa itu tidak
    memberikan suri tauladan.
    Saat ini, bangsa Indonesia sangat memerlukan kekuatan lahir
    dan batin untuk tabah dan tegar dalam menghadapi cobaan,
    serta rasa optimisme bahwa cepat atau lambat Indonesia
    akan semakin jaya, adil dan makmur, aman dan sentosa.
    Bangsa Indonesia memerlukan pemimpin yang selalu amanah
    dan bertanggungjawab atas segala tugas yang diembannya.
    Pemimpin yang pada setiap hembusan tarikan nafasnya
    hanya memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat yang
    sangat letih menghadapi kesulitan hidup kesehariannya.
    Bukan pemimpin yang hanya menebar berita bohong, janji-
    janji palsu, dan harapan-harapan kosong, karena
    sesungguhnya tidaklah elok mereka memanipulasi dan
    menipu rakyat yang menderita, sengsara dan hampir putus
    asa.

    View full-size slide

  3. Para founding fathers, para pendiri bangsa ini, yang telah
    berjuang menyabung nyawa mengusir penjajah dan
    memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
    1945, akan menangis menyaksikan keadaan bangsa Indonesia
    seperti saat ini.
    MERDEKA
    MERDEKA
    MERDEKA
    Para peserta upacara, sivitas academica Universitas Darma
    Persada yang saya cintai.
    Undang-undang no. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
    mengamanatkan bahwa untuk meningkatkan daya saing
    bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang,
    diperlukan pendidikan tinggi yang mampu mengembangkan
    ilmu pengetahuan dan teknologi serta menghasilkan
    intelektual, ilmuwan, dan/atau profesional yang berbudaya
    dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta
    BERANI MEMBELA KEBENARAN UNTUK KEPENTINGAN
    BANGSA.
    Berkaitan dengan peran pendidikan tinggi dalam
    pembangunan bangsa, serta kondisi bangsa dan rakyat
    Indonesia yang sangat mempihatinkan saat ini, seluruh sivitas
    academica Universitas Darma Persada sudah sepantasnya
    untuk menyatakan siap, dan berdiri pada posisi paling depan
    untuk menyelamatkan nasib bangsa ini.
    Universitas Darma Persada dengan visinya “Menjadi
    Universitas terkemuka di Indonesia dengan keunggulan dalam
    aspek Budaya yang diperkaya dengan Monozukuri yang
    memberi kontribusi berarti bagi pembangunan Bangsa dan
    Negara” segera mengimplementasikan Tri Darma Perguruan
    Tinggi untuk mencegah bangsa Indonesia terpecah belah dan
    saling memusuhi, karena tanpa disadari telah menjadi alat
    segelintir manusia yang tidak ingin melihat bangsa ini bersatu
    padu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
    berdasarkan Pancasila, berkonstitusi UUD 1945, hidup rukun
    dan memiliki rasa toleransi serta mampu memaafkan
    sesamanya dilingkungan Bhinneka Tunggal Ika.
    Universitas Darma Persada harus bisa melahirkan pemimpin
    yang sejati, yang satu kata dan perbuatan. Pemimpin yang
    memiliki kepekaan dan kesholehan sosial, kewarasan pikiran
    dan kebeningan hati nurani. Bukan pemimpin yang tersesat
    melakukan korupsi, yang tercela, yang hina dan bergelimang
    dengan KKN, pemimpin yang mabuk kepayang, ria, takabur
    dan pamer kuasa.
    Demikian yang dapat saya sampaikan kepada sivitas
    academica Universitas Darma Persada yang saya cintai,
    semoga Unsada ke depan bisa menjadi lebih baik lagi, dan
    dapat memberikan darma baktinya bagi sebesar-besarnya
    kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
    Amiiiin YRA.
    MERDEKA
    MERDEKA
    MERDEKA
    Wabilahi taufik Walhidayah Wassalamualaikum Wr Wb

    View full-size slide

  4. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2016

    View full-size slide

  5. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2016
    Bismillahirrahmanirrahim,
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Selamat pagi, dan salam sejahtera untuk kita semua.
    MERDEKA
    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
    memberikan kesehatan dan kekuatan bagi kita semua,
    sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk menghadiri
    acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang
    ke-71.
    Tujuh puluh satu tahun Indonesia merdeka merupakan
    rahmat yang tak ternilai harganya dari Allah Yang Maha
    Kuasa. Dengan kemampuan yang kita miliki, Indonesia
    menapak di jalan yang telah dibangun oleh founding fathers
    Bangsa kita, untuk mewujudkan sebuah negara yang
    berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong
    royong.
    Tahun ini, Indonesia menapaki momentum perayaan 71
    tahun kemerdekaannya. Sebuah periode yang tak pantas lagi
    untuk disebut muda. Ibarat manusia, usia kemerdekaan yang
    telah direguk negeri ini seharusnya telah memasuki fase yang
    matang. Tapi benarkah kehidupan negeri ini sudah menjadi
    bangsa yang matang secara ekonomi, politik, maupun sosial
    atau dalam istilah founding fathers negeri ini kita sering
    mendengarnya sebagai bangsa yang berdaulat?
    Inilah pertanyaan besar yang selalu mengiringi setiap kali
    perayaan 17 Agustus sepanjang periode negeri ini merdeka.
    Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan klasik semacam ini hanya
    sekedar melintas namun dalam perjalanan waktu kita justru
    lebih terlihat gamang dalam menemukan solusinya.
    Lantas, ketika negeri ini masih terjebak dalam kegamangan
    tak berujung untuk menemukan solusi, Indonesia sudah
    dihadapkan pada tantangan baru bernama globalisasi di
    kawasan ASEAN. Kita lebih mengenalnya dengan sebutan
    Masyarakat Ekonomi ASEAN. Fase ini telah resmi bergulir
    sejak akhir Desember 2015. Di sini, persaingan menjadi lebih
    terbuka. Rasanya, hanya Sumber Daya Manusia kompetitif
    saja yang kelak bisa survive untuk menjadikan negaranya
    sebagai bangsa yang unggul dan berdaulat.
    Pertanyaan berikutnya pun datang; mampukah Indonesia
    menjadi bangsa unggul dan berdaulat di tengah persaingan
    bebas antarnegara kawasan di ASEAN? Tanpa hendak
    bersikap pemistis, negeri ini sesungguhnya masih harus
    berjuang keras untuk menjadi bangsa berdaulat sebagaimana
    yang pernah dicita-citakan Presiden Indonesia pertama, Bung
    Karno.
    Merujuk survei Prosperity Index 2015, yang di dalamnya
    memuat peringkat kemakmuran, lembaga penelitian Legatum
    Institute dari Inggris, posisi Indonesia ternyata masih jauh di
    belakang Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Dalam
    survei itu kriteria penilaian meliputi tingkat ekonomi,

    View full-size slide

  6. kewirausahaan, kesehatan, pendidikan, dan pendapatan rata-
    rata per kapita.
    Lalu berkaca kepada survei Indeks Pembangunan Pendidikan
    Untuk Semua atau The Education for All Development Index
    yang dilakukan UNESCO, posisi Indonesia terlihat sangat
    miris. Survei itu menempatkan Indonesia hampir menempati
    tempat terendah terhadap kualitas pendidikan di negara-
    negara berkembang di Asia-Pasifik. Indonesia berada di
    peringkat ke-10 dari 14 negara.
    Kemudian saat melihat tingkat pendapatan nasional yang
    dicerminkan melalui Gross Domestic Product, posisi
    Indonesia ternyata tertinggal sangat jauh dengan negeri jiran
    Malaysia maupun Singapura. Padahal, kedua negara tersebut
    memiliki usia kemerdekaan lebih muda dibandingkan
    Indonesia. Malaysia baru menyatakan diri merdeka dari
    Inggris pada 31 Agustus 1957 dan Singapura pada 9 Agustus
    1965.
    Tapi jika membuka lembaran fakta ekonomi, GDP Singapura
    dan Malaysia ternyata sudah jauh meninggalkan Indonesia.
    Data Bank Dunia yang dirilis pada 2016, menempatkan
    Singapura sebagai negara kaya kesembilan dengan GDP
    sebesar US$ 55.182. Lalu Malaysia berada di peringkat ke-66
    (GDP senilai US$ 10.538). Sementara Indonesia, tercecer di
    peringkat 118 dengan GDP sebesar US$ 3.475.
    Peserta upacara yang saya hormati.
    MERDEKA
    Mengapa usia kemerdekaan Indonesia yang lebih lama
    dibandingkan Singapura maupun Malaysia itu tak mampu
    berjalan linear dengan perbaikan tingkat kehidupan
    penduduk dan bangsanya? Satu hal yang paling utama adalah
    bangsa ini sebenarnya tidak fokus dalam menata masa
    depannya. Bahkan menjadi sangat ironis, inisiasi menciptakan
    globalisasi itu justru berawal dari bumi Indonesia. Tepatnya,
    pada 1994 terlahir kesepakatan bernama Bogor Goals.
    Kesepakatan ini dirumuskan dalam pertemuan APEC yang
    dilakukan di Bogor. Bogor Goals itulah yang kemudian
    menciptakan dasar-dasar globalisasi pada masa kini.
    Sayangnya, inisiasi globalisasi yang ditandai di Bogor itu justru
    diabaikan para stakeholders di negeri ini. Seiring jatuhnya
    pemerintahan Orde Baru pada 1997, Indonesia justru dibawa
    terlena ke dalam euforia demokrasi. Padahal pada periode
    yang sama, ide mencanangkan MEA itu telah digagas di
    Bangkok, Thailand. Untuk kali kesekian, bangsa ini justru lupa
    atau sengaja melupakan diri untuk segera mempersiapkan
    SDM yang siap berkompetisi secara global.
    Di saat negeri jiran sibuk mempersiapkan dan membenahi
    kualitas SDM mereka, kita justru meloncat lebih jauh dengan
    menyibukkan diri pada persiapan pemilihan presiden secara
    langsung pada 2004. Tanpa kita sadari, energi yang
    dikeluarkan untuk menata demokrasi itu ternyata sangat
    besar sehingga kita melupakan bagaimana membuat
    roadmap masa depan negeri.
    Ini dapat dilihat setelah tidak adanya Garis Besar Haluan
    Negara (GBHN) selepas tumbangnya Orde Baru melalui
    peristiwa Reformasi 1998. Sedangkan Rencana Pembangunan
    Jangka Panjang (RPJP) nasional justru baru dilahirkan pada
    2007. Artinya, selama sembilan tahun, Indonesia sempat
    tidak memiliki gambaran masa depan. Sementara kita semua
    justru terlena ke dalam hiruk pikuk dan kegaduhan politik
    pragmatis yang menghiasi kontestasi demokrasi di negeri ini.

    View full-size slide

  7. Kegaduhan itu semakin berlanjut lagi ketika para menteri
    terpilih di pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK)
    justru lebih gemar mengerjakan hal-hal di luar Rencana
    Strategis (Renstra) lima tahunan. Belum lama ini kita sempat
    dibuat gaduh dengan pemunculan wacana Full Day School.
    Kita sesungguhnya tak ingin larut dalam kegaduhan-
    kegaduhan semacam itu. Hanya satu hal mendasar saja yang
    ingin ditanyakan apakah wacana semacam itu sudah menjadi
    bagian dari renstra pemerintahan yang berkuasa saat ini?
    Andai wacana semacam itu bukan menjadi bagian dari
    renstra maka dapat terlihat betapa stakeholders negeri ini
    tidak memiliki fokus yang jelas untuk menata masa depan
    Indonesia menjadi bangsa berdaya saing tinggi.
    Peserta upacara yang saya hormati.
    MERDEKA
    Berbicara mengenai daya saing adalah berbicara mengenai
    kualitas SDM. Menurut Survei Angkatan Kerja Nasional
    (Sakernas) per Agustus 2015 hampir separuh (47,1%) tenaga
    kerja Indonesia adalah lulusan SD ke bawah. Bagaimana
    lulusan SD bisa bersaing di MEA? Masih bisa, kalau mereka
    memiliki sertifikasi kompetensi tenaga kerja. Dalam hal ini
    pemerintah jangan abai dan jangan terlambat, karena ini
    merupakan hal penting pada era globalisasi.
    Inilah sebuah tantangan yang masih menghadang bangsa ini
    pada saat usia kemerdekaannya memasuki perayaan ke-71
    tahun. Kita boleh saja tersenyum bahagia karena tak lagi
    terjajah secara fisik seperti masa lalu. Tapi kita juga harus
    sadar diri bahwa bangsa ini sesungguhnya masih belum
    mampu menjadi bangsa yang berdaulat atas kemampuan
    dirinya sendiri. Rasanya sebuah penggalan pidato Bung Karno
    pada HUT Proklamasi 1963 masih terdengar pantas sebagai
    bahan refleski buat generasi masa kini dan generasi yang
    akan datang. ''Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan
    dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai
    suatu bangsa yang merdeka.''
    Peserta upacara yang saya hormati.
    MERDEKA
    Mari, sudah saatnya kita memfokuskan diri menghadapi
    persaingan global. Tak lupa juga, sudah saatnya bangsa ini
    memperbaiki mutu SDM jika ingin berkompetisi pada era
    MEA. Tanpa peningkatan mutu disertai penambahan dan
    asistensi untuk sertifikasi kompetensi tenaga kerja, rasanya
    ikhtiar mewujudkan kedaulatan bangsa seperti yang pernah
    didengungkan Bung Karno akan sangat sulit digapai. Salam
    dirgahayu Indonesia. Saatnya kita membuat perubahan.
    Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
    memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
    Aamiin YRA.
    Selamat bekerja secara nyata dan gelorakan inovasi.
    Dirgahayu 71 tahun Indonesia Merdeka!
    Wabillahit taufiq walhidayah, Wassalamualaikum
    warahmatullaahi wabarakatuh.

    View full-size slide

  8. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2017

    View full-size slide

  9. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2017
    Bismillahirrahmanirrahim,
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Selamat pagi, dan salam sejahtera untuk kita semua.
    MERDEKA
    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta
    ala yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan bagi kita
    semua, sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk
    mengikuti acara peringatan hari kemerdekaan Republik
    Indonesia yang ke-72.
    Peringatan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
    ke-72 adalah sebuah rentang waktu yang harusnya sudah
    cukup untuk mengantarkan negeri ini menjadi lebih baik. Tapi
    benarkah negeri ini sudah benar-benar menjadi lebih baik
    sebagaimana dicita-citakan para founding parent negeri ini?
    Sesungguhnya, pertanyaan kontemplatif semacam ini selalu
    saja berulang setiap kali Indonesia merayakan hari
    kemerdekaannya. Sayangnya, hingga 72 tahun perjalanan
    negeri ini merdeka, pertanyaan semacam itu selalu saja layak
    untuk disampaikan. Khusus perayaan kemerdekaan tahun ini
    yang mengusung tema besar "Indonesia Kerja Bersama"
    rasanya pantas untuk mempertanyakan perihal kebersamaan
    dan kerukunan yang ada di negeri berpopulasi 250 juta jiwa
    lebih ini.
    Dalam realitas sosial masyarakat perkotaan, kebersamaan
    menjadi kata yang terasa asing untuk diimplementasikan
    dalam keseharian pada masa kini. Fenomena yang muncul
    dari penduduk perkotaan adanya indikasi kebanggaan dengan
    identitas kehidupan individualisme ala Barat. Nilai-nilai luhur
    kebersamaan yang tercermin melalui semangat gotong-
    royong menjadi hal yang terasa langka.
    Kelangkaan nilai itu menjadi semakin kuat ketika kita hidup di
    lingkungan perumahan elite di kota-kota besar seperti
    Jakarta. Fakta yang kerap ditemukan adalah cukup banyak di
    antara para warga penghuni perumahan-perumahan elite itu
    yang hidup berdampingan tanpa pernah mengenal para
    tetangganya. Semuanya sudah dianggap sebagai kelaziman
    bagi masyarakat kota. Inilah tanda yang nyata atas terjadinya
    degradasi kebersamaan yang tengah menggerus identitas ke-
    Indonesia-an, khususnya di masyarakat perkotaan pada masa
    kini. Mengapa kebersamaan itu disebut sebagai identitas
    Indonesia? Jika menengok pada sila kelima di dalam
    Pancasila, sesungguhnya sudah ditegaskan bahwa bangsa ini
    tumbuh atas dasar kebersamaan dan gotong-royong.
    Lalu dalam skala yang lebih luas lagi, ancaman nilai
    kebersamaan ini dapat pula dilihat dari munculnya
    kesenjangan ekonomi yang begitu besar di negeri ini.
    Berdasarkan laporan Global Wealth Report pada 2016 yang
    dibuat oleh Credit Suisse’s, Indonesia tercatat sebagai negara
    peringkat keempat paling timpang di dunia. Dari data

    View full-size slide

  10. tersebut memperlihatkan bahwa 1 persen orang terkaya di
    Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional.
    Adanya ketimpangan ekonomi ini sesungguhnya menjadi
    masalah sangat serius untuk bisa membangun tumbuhnya
    kebersamaan di antara anak bangsa. Bagaimana mungkin
    kebersamaan itu akan bisa tumbuh jika penguasaan ekonomi
    negeri ini ternyata hanya dikuasai oleh segelintir orang saja?
    Pertanyaan pun mengemuka, mungkinkah keadilan bisa
    tercipta ketika ketimpangan itu semakin besar? Pesimisme
    semacam ini tentunya sangat berbahaya jika tidak bisa
    dikelola secara baik.
    Dan sesungguhnya, sinyal-sinyal semakin merapuhnya
    semangat kebersamaan akibat dari tingginya kesenjangan
    ekonomi ini sudah mulai tampak dalam beberapa waktu
    belakangan ini. Sentimen-sentimen rasial dan kesukuan yang
    mengarah pada dikotomi-dikotomi yang mengancam integrasi
    kehidupan berbangsa seakan menjadi isu yang paling mudah
    untuk diproduksi dalam merespons kesenjangan tersebut.
    Sentimen-sentimen rasial dan kesukuan itu kemudian
    semakin meluas setelah direproduksi secara masif lewat
    media sosial. Dikotomi pribumi versus non pribumi menjadi
    santapan paling bombastis untuk melemahkan kebersamaan
    di antara anak bangsa.
    Inilah bentuk kemunduran kehidupan berbangsa yang
    semakin hari semakin jelas terlihat di depan kita. Padahal jika
    membuka lembaran sejarah, keberagaman yang kemudian
    dibungkus menjadi slogan Bhineka Tunggal Ika itu,
    sesungguhnya menjadi salah satu pilar utama berdirinya
    Indonesia 72 tahun silam.
    MERDEKA
    Para peserta upacara, sivitas academica Universitas Darma
    Persada yang saya cintai.
    Di tengah ancaman untuk menggerogoti semangat
    kebersamaan antar anak bangsa di negeri ini maka sudah
    sewajarnya pemerintah dan masyarakat mengambil peran
    lebih nyata dalam menumbuhkan dan merawat kebersamaan.
    Sebagai pengelola negara, pemerintah sudah seharusnya
    mampu mendorong terciptanya pemerataan ekonomi. Ini
    menjadi hal yang wajib dilakukan jika ingin merawat
    kebersamaan itu tetap lestari di negeri ini.
    Sentralisasi pembangunan yang selama ini masih berorientasi
    pada konsep pembangunan Jawa sentris sudah seharusnya
    diselaraskan dengan semangat otonomi daerah. Untuk hal ini,
    regulasi-regulasi di daerah maupun pusat yang selama ini
    masih menghambat proses implementasi paket kebijakan
    ekonomi sudah seharusnya segera diinventarisasi dan
    dicarikan solusinya. Untuk pemerataan pembangunan
    tentunya tak lagi tepat jika hanya sekedar memunculkan
    wacana untuk memindahkan ibu kota ke luar Jakarta.
    Namun hal yang lebih utama adalah bagaimana dana dari
    pemerintah itu bisa melahirkan pemerataan pembangunan
    infrastruktur di daerah. Inilah yang menjadi kata kunci untuk
    dapat menstimulasi dan menggeliatkan aktifitas bisnis di
    daerah. Asumsinya ketika geliat bisnis di daerah itu semakin
    membaik maka daya pikat orang untuk tidak menuju Jakarta
    akan semakin berkurang.

    View full-size slide

  11. MERDEKA
    Para peserta upacara, sivitas academica Universitas Darma
    Persada yang saya cintai.
    Untuk mengimplementasikan Pancasila pada masa kini sangat
    diperlukan kearifan pemahaman yang bersifat kontekstual
    dan kekinian. Pancasila sudah saatnya untuk tidak lagi
    ditempatkan sebagai doktrin tanpa implementasi. Begitu
    juga, sudah sepatutnya untuk tidak membungkus jargon-
    jargon Pancasila itu sebagai alat politik jangka pendek saja.
    Pancasila sebagai way of life bangsa ini sudah sepatutnya
    ditempatkan sebagai landasan untuk menjawab tantangan
    zaman yang semakin berubah.
    Kita semua harus yakin dan percaya jika nilai-nilai yang
    terkandung di dalam butir sila kelima Pancasila yang
    kemudian dikontekstualkan dengan zaman serta diperkuat
    dengan adanya kesungguhan dari semua elemen bangsa
    untuk mengimplementasikannya ke dalam kehidupan
    bernegara dan berbangsa maka di sanalah kita dapat
    merawat kebersamaan untuk membawa Indonesia menjadi
    lebih maju.
    Demikian yang dapat saya sampaikan kepada sivitas
    academica Universitas Darma Persada yang saya cintai, kita
    semua yakin bahwa pada saat Indonesia sudah menginjak
    usia 72 tahun merdeka ini, kita semua ke depan bisa lebih
    siap untuk memulai perubahan cara pandang dan sikap.
    Amiiiin YRA.
    Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
    memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
    Dirgahayu 72 tahun Indonesia.
    MERDEKA
    Wabilahi taufik Walhidayah
    Wassalamualaikum Wr Wb

    View full-size slide

  12. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2018

    View full-size slide

  13. Pidato Rektor Unsada
    Pada Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2018
    Bismillahirrahmanirrahim,
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Selamat pagi, dan salam sejahtera untuk kita semua.
    MERDEKA
    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wataala
    yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan bagi kita
    semua, sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk
    mengikuti acara peringatan hari kemerdekaan Republik
    Indonesia yang ke-73. Selama rentang waktu tersebut,
    sudahkah negeri ini bergerak menuju cita-cita besar para
    founding parent yang menginginkan Indonesia sebagai
    bangsa besar sekaligus bangkit menghadapi tantangan
    zaman?
    Inilah pertanyaan refleksional yang akan terus menyertai
    perjalanan negeri yang kini sudah dipadati 265 juta jiwa
    penduduk atau telah tumbuh empat kali lipat dibanding
    jumlah penduduk pada saat Indonesia memproklamasikan
    kemerdekaannya pada 1945.
    Jika melihat komposisi penduduk serta kemajuan teknologi,
    tantangan yang dihadapi Indonesia pada masa lalu dan masa
    kini, tentunya sudah sangat berbeda jauh. Perbedaan itu pula
    yang membuat makna kemerdekaan bangsa ini menjadi
    sangat penting untuk dipertegas kehadirannya.
    Apalagi, sejak 2015 Indonesia sudah memasuki sistem
    perdagangan terbuka bernama Masyarakat Ekonomi ASEAN
    (MEA). Semangat besar dari gagasan hadirnya MEA ini
    membentuk pasar tunggal dan menciptakan kondisi yang
    kompetitif antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Inilah
    tantangan eksternal buat bangsa yang tak bisa lagi ditolak.
    Selain tantangan ekonomi yang borderless di kawasan Asia
    Tenggara, negeri ini juga masih menghadapi tantangan
    domestik yang tak kalah pelik. Salah satu yang utama adalah
    suksesi kepemimpinan nasional. Sebagaimana diketahui
    bersama bahwa periode duet kepemimpinan Joko Widodo-
    Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sudah mendekati pengujung masa
    pemerintahannya. Pekan lalu, dua pasang calon presiden dan
    wakil presiden baru saja mengikrarkan diri untuk bersaing
    menjadi pemimpin Indonesia periode 2019-2024.
    Kontestasi politik ini tentu menjadi hal yang tak bisa
    diabaikan untuk membawa bangsa ini bergerak menuju
    kebangkitannya sebagai bangsa besar sebagaimana kejayaan
    di masa kerajaan-kerajaan yang telah membangun peradaban
    nusantara. Mampukah dalam lima tahun ke depan Indonesia
    bisa bangkit atau justru bangsa ini akan lenyap sebagaimana
    ramalan dalam novel Ghost Fleet yang menyebut Indonesia
    menghilang pada 2030.
    Sekali lagi inilah tantangan besar di saat negeri ini merayakan
    73 tahun kemerdekaannya. Untuk mengurai tantangan

    View full-size slide

  14. tersebut, salah satu indikator yang dapat digunakan adalah
    nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sebagaimana
    dijelaskan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), di dalam IPM ini
    ada tiga dimensi dasar yang diukur, yakni kesehatan,
    pendidikan, serta standar hidup layak.
    Merujuk data yang dirilis BPS tahun ini, pembangunan
    manusia di Indonesia dinilai terus mengalami kemajuan. Pada
    tahun 2017, IPM Indonesia mencapai 70,81. Angka ini
    meningkat sebesar 0,63 poin atau tumbuh sebesar 0,90
    persen dibandingkan tahun 2016.
    Namun demikian, laporan World Bank yang dirilis pada awal
    tahun ini menyebutkan juga bahwa pertumbuhan ekonomi
    dalam satu dekade terakhir hanya menguntungkan 20 persen
    orang paling kaya di Indonesia saja. Artinya, kebanyakan
    orang Indonesia masih belum menikmati pertumbuhan
    ekonomi yang kerap dijadikan indikator keberhasilan
    pemerintah.
    Fenomena semacam itu sesungguhnya bukan hal asing yang
    terjadi di negeri ini maupun di sejumlah negara berkembang.
    Berkaca pada fenomena yang ada serta merujuk pada salah
    satu dimensi IPM, maka faktor pendidikan menjadi sangat
    penting untuk diperhatikan. Premis besarnya adalah ketika
    kualitas pendidikan diperbaiki dan ditingkatkan mutunya
    maka diharapkan akan terjadi perbaikan IPM sekaligus
    menurunkan tingkat kesenjangan di negeri ini.
    MERDEKA
    Tapi, seperti apakah gambaran kualitas pendidikan Indonesia
    pada saat ini? Mengutip laporan CNN Indonesia (2018),
    kualitas pendidikan Indonesia menurut survei Political and
    Economic Risk Consultant (PERC) berada di urutan ke-12 dari
    12 negara di Asia. Posisi Indonesia ternyata masih berada di
    bawah Vietnam. Lalu, laporan The World Economic Forum
    Swedia (2000) mengungkap Indonesia memiliki daya saing
    yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57
    negara yang disurvei di dunia.
    Gambaran global itu tentunya menjadi pekerjaan rumah yang
    harus dibenahi oleh pemimpin Indonesia ke depan. Artinya,
    siapapun yang kelak memimpin Indonesia, perbaikan mutu
    dan kualitas pendidikan harus diperjuangkan sekuat tenaga.
    Mengapa harus diperjuangkan? Karena hanya dengan
    pendidikan yang baik maka negeri ini akan bisa bersaing di
    era global yang telah bebas batas negara the state of
    borderless. Ketika negeri ini memiliki daya saing yang tinggi
    maka kemampuan untuk merespons tantangan, baik secara
    domestik maupun global, akan bisa dilakukan secara optimal.
    Lantas bagaimanakah cara untuk mendorong tumbuhnya
    daya saing negeri ini? Salah satu cara yang dapat
    dikembangkan adalah melahirkan kurikulum pendidikan yang
    bersifat responsif terhadap kemajuan zaman. Mindset
    kurikulum yang selama ini masih digunakan sudah seharusnya
    dikaji ulang. Kurikulum yang hanya didasarkan pada
    pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan
    substansial masyarakat sudah saatnya direvisi.
    Singkatnya, untuk mengarah pada mindset baru tersebut
    maka diperlukan adanya sejumlah perbaikan terhadap
    efektivitas, efisiensi, dan standarisasi pengajaran. Para

    View full-size slide

  15. pengajar, khususnya di lembaga pendidikan tinggi, sudah
    seharusnya mengembangkan model pengajaran yang mampu
    mengadopsi kemajuan teknologi untuk merangsang
    tumbuhnya kreatifitas para peserta didik.
    Harapannya, ujung dari perbaikan itu bisa melahirkan lulusan-
    lulusan yang kreatif sekaligus melek teknologi. Inilah yang
    menjadi kunci untuk menghadapi era disrupsi sekaligus
    persaingan global yang makin kompetitif di masa mendatang.
    MERDEKA
    Untuk melahirkan lulusan-lulusan yang kreatif sekaligus
    melek teknologi itu memang bukanlah pekerjaan mudah
    seperti membalikkan telapak tangan. Di sini perlu dilakukan
    usaha dan kerja keras yang tak boleh kenal lelah. Ikhtiar itu
    harus terus dilakukan dengan penuh kesadaran bersama
    bahwa negeri ini harus bisa bangkit dari segala
    ketertinggalannya.
    Percayalah, ketika pendidikan negeri ini bisa melahirkan para
    lulusan kreatif maka akan semakin memudahkan negeri ini
    menghadapi persaingan secara global. Di saat daya saing
    semakin kuat maka di sanalah akan tumbuh kemampuan
    negeri ini untuk bisa bangkit di atas kakinya sendiri.
    Untuk itulah, Indonesia butuh kerja secara bersama-sama
    untuk mewujudkan mimpi besar dari anugerah kemerdekaan
    ini. Tantangan domestik berupa pemilihan presiden harusnya
    jangan membuat negeri ini bergerak mundur akibat
    perbedaan pilihan politik. Seharusnya, adanya perbedaan-
    perbedaan itu, bisa membuat bangsa ini semakin kuat untuk
    menghadapi tantangan yang semakin sulit di masa depan.
    Inilah pilihan yang harusnya dilakukan jika Indonesia ingin
    bangkit. Kesadaran ini harusnya bisa didesiminasikan serta
    ditumbuhkan kepada generasi muda bangsa ini. Polemik
    politik domestik serta tantangan globalisasi adalah
    keniscayaan yang harusnya menguatkan negeri ini untuk
    menjadi bangsa yang kompetitif.
    Sekali lagi, inilah semangat kemerdekaan Indonesia di usianya
    yang telah menginjak 73 tahun. Dan, kita masih harus bekerja
    bersama-sama untuk mewujudkan anugerah kemerdekaan
    itu demi menghadirkan Indonesia yang di cita-citakan para
    pendiri negeri ini. Demikian yang dapat saya sampaikan
    kepada sivitas academica Universitas Darma Persada yang
    saya cintai, kita semua yakin bahwa pada saat Indonesia
    sudah menginjak usia 73 tahun merdeka ini, kita semua ke
    depan bisa lebih siap untuk memulai perubahan cara
    pandang dan sikap. Amiiiin YRA.
    Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
    memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
    Dirgahayu 73 tahun Indonesia
    MERDEKA
    Wabilahi taufik Walhidayah Wassalamualaikum Wr Wb

    View full-size slide