Upgrade to Pro — share decks privately, control downloads, hide ads and more …

AT5102-SISTEM INPUT DAN OUTPUT HIDROGEOLOGI

AT5102-SISTEM INPUT DAN OUTPUT HIDROGEOLOGI

482627ef66f15a078118328915d9d092?s=128

Dasapta Erwin Irawan

October 24, 2020
Tweet

Transcript

  1. EDUNEX ITB 1 Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan

    Teknologi Kebumian Tentang system input-output hidrogeologi AT5102 – Geologi Air Tanah Dasapta Erwin Irawan Blog terkait: https://derwinirawan.wordpress.com/2020/10/27/t entang-sistem-input-dan-output-hidrogeologi/ Kawasan imbuhan dan luahan
  2. 2 Tedi Cahyadi (2011) Zidni Ilman Muntaha (2011) M. Rizki

    Ramadhan (2011) Jaka Satria Budiman (2012) Ali Lukman (2011)
  3. Tim lengkap • Pembimbing: – D. Erwin Irawan – Budi

    Brahmantyo • Nara sumber: – Prof. Deny Juanda P. • Mahasiswa: – Zidni I.M – Tedy C. – Jaka S.B. – Arif – Rizky – Ali L. 3
  4. UMUM 4

  5. 5 Tiga Sistem Hidrologi (Castany, 1982, Bases of the scientific

    study of groundwater, International symposium on the computation of groundwater balance, Unesco)
  6. 6 Cekungan airtanah (Groundwater basin) • Cekungan air tanah (UU

    No. 7/2004 dan PP No. 43/2008 tentang Air Tanah) Suatu wilayah yang dibatas oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung. Groundwater basin An alluvial aquifer or a stacked series of alluvial aquifers with reasonably well-defined boundaries in a lateral direction and having a definable bottom (Department of water resources, California, http://www.water.ca.gov/groundwater/groundwater_glossary.cfm)
  7. 7

  8. 8 (IAH, 1997)

  9. 9 Pola kontur isopotensial dan muka airtanah

  10. CEKUNGAN AIR TANAH BANDUNG- SOREANG 10

  11. 11 Peneliti sebelumnya A. Geologi Regional 1. Silitonga, P.H., 1973,

    Peta Geologi Lembar Bandung, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung. 2. Deptamben, 1979, Data Dasar Gunungapi Indonesia, Deptamben 3. Koesoemadinata, R.P. dan Hartono, D., 1981, Stratigrafi dan Sedimentasi Daerah Bandung, Prosiding Ikata Ahli Geologi Indonesia, Bandung. 4. Soetoyo dan Hadisantono, R.D., 1992, Peta Geologi Gunungapi Tangkuban Perahu/Kompleks Gunungapi Sunda, Jawa Barat, Directorate Volkanologi, Bandung. 5. Dam, M.A.C, 1994, The Late Quarternary Evolution of The Bandung Basin, West Java, Indonesia, Amsterdam, The Netherlands.
  12. 12 Peneliti sebelumnya B. Hidrogeologi - Studi Regional 1. Geyh,

    M.A., 1990, Isotopic Hydrological Study in the Bandung Basin Indonesia, Project CTA 108, Environmental Geology for Land Use and Regional Planning. 2. IWACO, WASECO, 1990, West Java Provincial Water Sources Master Plan for Water Supply, Kabupaten Bandung, Groundwater Resources, Directorate General Cipta Karya, Jakarta, Volume A. - Studi Khusus 1. Sudarto Notosiswojo, 1989, Thermalwasser im Vulkangebiet Tangkuban Perahu bei Bandung, Dissertation, Rheinisch-Westfalischen Technischen Hoch schule. 2. Bambang Sunarwan, 1997, Penerapan Metoda Hidrokimia – Isotop Oksigen – 18 (18O), Deuterium (2H) dan Tritium (3H) dalam Karakterisasi Akifer Airtanah pada Sistem Akifer Bahan Volkanik. Studi Kasus Kawasan Padalarang – Cimahi – Lembang, Bandung, Tesis Magister, tidak dipublikasikan. 3. Jhonny P. Marpaung, 2003, Karakteristik Sistem Airtanah Daerah Gunungapi. Studi Kasus: Kompleks Gunungapi Tangkuban Perahu, Burangrang, dan Bukit Tunggul., Tesis magister ITB, Tidak dipublikasikan. 4. Hendarmawan, Mitamura, Kumai, 2005, Water Temperatur and Electrical Conductivity of Springs on The Volcanic Slope in A Tropical Region: A Case Study on Lembang Area, West Java, Indonesia
  13. Morfologi regional Cekungan Bandung (Nossin, 1992) 13

  14. 14 Sketsa Cekungan Bandung

  15. 15 Dari Peta Geologi Lembar Bandung Skala (original) 1:100.000 Silitonga,

    1972 Sangat tua Tua Muda Muda Muda Tua Andesitis-dasitis Pliosen Endapan danau
  16. 16 (Soetrisno, 1993)

  17. 17 Stratigrafi UMUR SATUAN STRATIGRAFI SIMBOL LITOLOGI Holosen Aluvial dan

    Koluvial Bahan lepas tak terkonsolidasi, lempung-bongkah Plistosen Atas Formasi Kosambi Lempung tufan, batupasir tufan, kerikil tufan setempat membentuk lapisan mendatar dengan sisipan breksi, mengandung sisa-sisa tumbuhan dan moluska air tawar, ketebalan 0–125 Hasil gunung api muda Breksi gunungapi, lapili, lava dan pasir tufan: lava muda, breksi dan aglomerat, tuf, breksi lahar mengan- dung sedikit batuapung dan lava; dan hasil gunungapi tak teruraikan KUARTER Plistosen Tengah Plistosen Bawah TERSIER Pliosen Hasil gunungapi Tua Perselingan antara breksi gunungapi, lahar dan lava. Lahar dan lava andesit- basaltan hasil kelompok gunungapi tua; breksi gunungapi, aliran lahar dan lava berkekar; tuf gelas mengandung batu apung dan obsidian berukuran lapili hingga bom dan lava basalt hasil gunungapi tak-teruraikan.
  18. None
  19. None
  20. 20 Identifikasi DHL [EC] terhadap 45 mataair di sekitar Patahan

    Lembang [Hendarmawan et,al, 2005]
  21. 21 Identifikasi DHL [EC] terhadap 45 mataair di sekitar Patahan

    Lembang [Hendarmawan et,al, 2005]
  22. 22 Identifikasi zona imbuhan dan pemunculan mataair [Marpaung, 2003] Kawasan

    Imbuhan tersebar pada ketinggian 700-1000 mdpl dan pada ketinggian > 1300 mdpl
  23. 23 Distribusi 35 mataair yang diobservasi [Marpaung, 2003]

  24. 24 Ringkasan Sistem Akifer [Marpaung, 2003] Patahan Lembang 1300mdpl

  25. 25 Sifat kimia-fisika 69 mataair dan sumur gali [Sunarwan, 1997]

    T >
  26. 26 Kajian asal mula airtanah menggunakan relasi isotop 18O dan

    2H [Bambang Sunarwan, 1997] Contoh airtanah bebas dan airtanah tertekan mempunyai karakter air meteorik yang dominan
  27. 27 Utara [Cijonggol] -Selatan [Sukajadi] [Bambang Sunarwan, 1997]

  28. HASIL KEGIATAN 28

  29. Daerah seluas ± 350 km2

  30. ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ (Gn. Walat)

    FM. BAYAH TENGAH O L I G O S E N FM. BATUASIH A K H I R N 1 – N 4 FM. RAJAMANDALA Sat. Napal Sat. Bt.gamping N 5 – N 8 A W A L FM. CITARUM M I O S E N FM. SAGULING N 9 – N 13 T E N G A H PLEISTOSEN VOLKANIK KUARTER UMUR FOR- MASI LITO- LOGI D E S K R I P S I Tuf, breksi volkanik, lahar, dan lain-lain Breksi volkanik, aliran debris bawah laut (turbidit proksimal) Perselingan batupasir, lanau, dan batulempung. Memperlihatkan sekuens turbidit bawah laut distal Napal, serpih dengan sisipan batupasir Batugamping, terumbu koral – batugamping foraminifera-ganggang; berlapis hingga masif Batulempung gampingan / napal, Abu-abu gelap hingga kehijauan, mengandung globigerina Batupasir konglomeratan kuarsa, terpilah buruk, keras, kompak, silang siur ? 400 m 300 – 750 m 100 – 400 m 850 m >1750 m ketebalan Koesoemadinata dan Hartono, 1984 ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
  31. A B A B LEGENDA Satuan Tuf Pasir Satuan Lava

    Basalt Satuan Tuf Fragmen Satuan Breksi Piroklastik U Peta dan penampang dibuat dalam skala 1:25.000 (bukan skala dalam slide )
  32. LEGENDA Satuan Tuf Pasir Satuan Lava Basalt Satuan Tuf Fragmen

    Satuan Breksi Piroklastik U Peta dan penampang dibuat dalam skala 1:25.000 (bukan skala dalam slide )
  33. A B A B LEGENDA Satuan Tuf Pasir Satuan Lava

    Basalt Satuan Tuf Fragmen Satuan Breksi Piroklastik U Peta dan penampang dibuat dalam skala 1:25.000 (bukan skala dalam slide )
  34. A B A B LEGENDA Satuan Tuf Pasir Satuan Lava

    Basalt Satuan Tuf Fragmen Satuan Breksi Piroklastik U Peta dan penampang dibuat dalam skala 1:25.000 (bukan skala dalam slide )
  35. Data Infiltrasi (Satuan Breksi Gunungapi) 35 13 Tuf fragmen 0,45

    Min 0,19 cm/menit 14 Tuf fragmen 0,32 15 Tuf fragmen 0,19 16 Tuf fragmen 0,49 17 Tuf fragmen 0,23 18 Tuf fragmen 0,22 Kode Satuan batuan Laju infiltrasi akhir (cm/menit) 20 Breksi gunung api 0,24 Jumlah titik 11 titik 21 Breksi gunung api 0,11 Rata-rata 0,25 cm/menit 22 Breksi gunung api 0,42 Maks 0,73 cm/menit 23 Breksi gunung api 0,09 Min 0,08 cm/menit 24 Breksi gunung api 0,73 25 Breksi gunung api 0,12 26 Breksi gunung api 0,08 27 Breksi gunung api 0,32 28 Breksi gunung api 0,31 29 Breksi gunung api 0,14 30 Breksi gunung api 0,16 Ringkasan laju infiltrasi
  36. Data Infiltrasi (Satuan Tuf fragmen) 36 13 Lava basalt 0,05

    Min 0,02 cm/menit 14 Lava basalt 0,02 15 Lava basalt 0,09 16 Lava basalt 0,09 17 Lava basalt 0,03 18 Lava basalt 0,02 Kode Satuan batuan Laju infiltrasi akhir (cm/menit) 10 Tuf fragmen 0,21 Jumlah titik 9 titik 11 Tuf fragmen 0,22 Rata-rata 0,30 cm/menit 12 Tuf fragmen 0,35 Maks 0,49 cm/menit 13 Tuf fragmen 0,45 Min 0,19 cm/menit 14 Tuf fragmen 0,32 15 Tuf fragmen 0,19 16 Tuf fragmen 0,49 17 Tuf fragmen 0,23 18 Tuf fragmen 0,22 Kode Satuan batuan Laju infiltrasi akhir (cm/menit) 20 Breksi gunung api 0,24 Jumlah titik 11 titik Ringkasan laju infiltrasi Ringkasan laju infiltrasi
  37. Data Infiltrasi (Satuan Lava basalt) 37 3 Tuf pasir 0,06

    Maks 0,13 cm/menit 4 Tuf pasir 0,11 Min 0,06 cm/menit 5 Tuf pasir 0,08 6 Tuf pasir 0,12 7 Tuf pasir 0,09 Kode Satuan batuan Laju infiltrasi akhir (cm/menit) 10 Lava basalt 0,11 Jumlah titik 9 titik 11 Lava basalt 0,02 Rata-rata 0,05 cm/menit 12 Lava basalt 0,05 Maks 0,11 cm/menit 13 Lava basalt 0,05 Min 0,02 cm/menit 14 Lava basalt 0,02 15 Lava basalt 0,09 16 Lava basalt 0,09 17 Lava basalt 0,03 18 Lava basalt 0,02 Kode Satuan batuan Laju infiltrasi akhir (cm/menit) 10 Tuf fragmen 0,21 Jumlah titik 9 titik 11 Tuf fragmen 0,22 Rata-rata 0,30 cm/menit Ringkasan laju infiltrasi Ringkasan laju infiltrasi
  38. Data Infiltrasi (Satuan Tuf pasir) 38 Kode Satuan batuan Laju

    infiltrasi akhir (cm/menit) 1 Tuf pasir 0,1 Jumlah titik 7 titik 2 Tuf pasir 0,13 Rata-rata 0,10 cm/menit 3 Tuf pasir 0,06 Maks 0,13 cm/menit 4 Tuf pasir 0,11 Min 0,06 cm/menit 5 Tuf pasir 0,08 6 Tuf pasir 0,12 7 Tuf pasir 0,09 Kode Satuan batuan Laju infiltrasi akhir (cm/menit) 10 Lava basalt 0,11 Jumlah titik 9 titik 11 Lava basalt 0,02 Rata-rata 0,05 cm/menit Ringkasan laju infiltrasi Ringkasan laju infiltrasi
  39. Ringkasan 39 LEGENDA Satuan Tuf Pasir Satuan Lava Basalt Satuan

    Tuf Fragmen Satuan Breksi Piroklastik Laju Infiltrasi Akhir (cm/menit) 0 0,3 0,1 0,2 Satuan Batuan Jumlah Mata air 12 3 25 20
  40. Beberapa foto dari lokasi 40

  41. Hasil sementara ini • Bahwa laju infiltrasi membesar: – Arah

    vertikal: ke arah lapisan batuan yang dalam. – Arah horizontal: ke arah elevasi yang semakin rendah. • Implikasinya: – Kapasitas infiltrasi untuk masing-masing satuan batuan (secara teori) dapat dihitung. – Untuk itu diperlukan analisis water balance. 41
  42. Hasil sementara ini • Jumlah mata air semakin banyak pada

    lapisan batuan yang laju infiltrasinya besar: – Posisi munculnya mata air dikendalikan oleh jenis batuan dan topografi. – Implikasinya: • Menambah bukti bahwa kawasan imbuhan bersifat lokal, tidak menerus seperti yang dinyatakan saat ini. • Penarikan batas imbuhan (merupakan program selanjutnya), bukan bersifat zona regional tetapi bersifat lokal. 42
  43. Analisis selanjutnya • Analisis aliran air tanah • Penarikan batas

    kawasan imbuhan • Perhitungan water balance 43
  44. Terimakasih Masukan dari Bapak/Ibu akan memperkaya hasil penelitian ini KK

    Geologi Terapan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung www.fitb.itb.ac.id/kk-geologi-terapan erwin@gc.itb.ac.id 44