Upgrade to Pro — share decks privately, control downloads, hide ads and more …

Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda

28 Oktober 2015-2018 Hari ini tepat tanggal 28 Oktober, kita kembali memperingati hari Sumpah Pemuda untuk mengingat sebuah momentum besar yang menandai bersatunya seluruh pemuda pemudi Bangsa Indonesia dalam satu ikrar. Ikrar yang mengikat dan menghujam dalam sanubari pemuda Nusantara untuk bersatu padu memperjuangkan hak hak yang tertindas masa itu. Tanpa ikrar seperti itu mungkin saja kita masih tercerai berai atau entah seperti apa bentuk negara ini.

More Decks by Universitas Darma Persada 2015-2018

Other Decks in Education

Transcript

  1. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 87

    Tahun 2015
  2. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 87

    Tahun 2015 Assalamualaikum Wr Wb Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua Para peserta upacara, sivitas academica Universitas Darma Persada, khususnya para pemuda dan pemudi yang saya cintai. Hari ini tepat tanggal 28 Oktober, kita kembali memperingati hari Sumpah Pemuda untuk mengingat sebuah momentum besar yang menandai bersatunya seluruh pemuda pemudi Bangsa Indonesia dalam satu ikrar. Ikrar yang mengikat dan menghujam dalam sanubari pemuda Nusantara untuk bersatu padu memperjuangkan hak hak yang tertindas masa itu. Tanpa ikrar seperti itu mungkin saja kita masih tercerai berai atau entah seperti apa bentuk negara ini. Sebagai Bangsa Indonesia kita patut memperingati hari Sumpah Pemuda dan harus dapat mengambil hikmah dan makna yang terkandung di dalamnya. Kita patut mencontoh sikap persatuan pemuda yang bisa serempak dalam satu wadah NKRI. Sehingga rasa bangga memiliki hingga bersatu membangun dan mempertahankan kesatuan negara ini dapat kita terapkan dalam sanubari kita masing-masing. Dengan Sumpah Pemuda kita harus jeli melihat dan bersikap dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara dari tangan- tangan perusak. Jangan sampai dapat terpecah belah hanya karena niat segelintir orang yang selalu merongrong dan ingin mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Era digital yang ditandai dengan semakin terbuka dan cepatnya arus informasi disadari sangat bermanfaat dalam mendorong transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan efektifitas guna mendukung pembangunan bangsa. Namun kalau kita tidak hati-hati, era digital juga sangat berpotensi untuk memporakporandakan bangsa ini, karena banyaknya perbedaan yang ada di Indonesia yang memiliki pulau yang cukup luas, ragam budaya, perkembangan politik yang sedang memanas, pengaruh LN yang tidak terbendung, serta perbedaan lainya karena bangsa kita kaya akan keaneka ragaman. Pada titik itulah pentingnya kita memperingati isi dan makna dari Sumpah Pemuda sebagai alat pemersatu bangsa. Ingatlah bahwa 87 tahun yang lalu, para pemuda Indonesia pernah berikrar:  Bertanah Air Satu Tanah Air Indonesia.  Berbangsa Satu Bangsa Indonesia  Berbahasa Satu Bahasa Indonesia.
  3. Peringatan sebagai sebuah refleksi sumpah pemuda ini mesti kita terapkan

    agar kita tidak kehilangan jati diri kita sebagai pemuda dan pemudi harapan bangsa. Ini adalah sumpah yang tidak hanya diucapkan akan tetapi perlu kita serap dalam pikiran, dijadikan sebuah sugesti dalam jiwa yang paling dalam, serta diimplementasikan dalam tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Demikian yang dapat saya sampaikan di peringatan hari sumpah Pemuda ini, tetaplah SEMANGAT, junjung tinggi tanah air dan tumpah darah kita, bangsa kita, dan bahasa kita. Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
  4. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 88

    Tahun 2016
  5. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 88

    Tahun 2016 Assalamualaikum Wr Wb Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua Para peserta upacara, sivitas academica Universitas Darma Persada, khususnya para pemuda dan pemudi yang saya cintai. Tidak ada yang bisa menyangsikan betapa besarnya peran pemuda dalam perjalanan bangsa ini. Pemuda selalu tampil dan memainkan peran vital, mulai dari proses prakemerdekaan, kemerdekaan, munculnya Orde Baru hingga lahirnya Reformasi. Sejarah telah mencatat, kaum muda selalu menjadi garda terdepan dalam setiap babakan perubahan di negeri ini. Tidak terasa juga, salah satu tonggak sejarah yang pernah ditorehkan kaum muda di negeri ini ternyata sudah berlalu 88 tahun. Tonggak itu kita kenal sebagai peristiwa Sumpah Pemuda. Inilah ikrar yang digaungkan kaum muda untuk menampilkan identitas kebangsaan yang satu bernama Indonesia. Kita kemudian mengenalnya dalam rumusan 1) Bertanah Air Satu Tanah Air Indonesia; 2) Berbangsa Satu Bangsa Indonesia; 3) Berbahasa Satu Bahasa Indonesia. Inilah semangat dari nasionalisme dan kebangsaan kaum muda dalam melahirkan bangsa yang besar bernama Indonesia. Lalu mengapa perlu mencantumkan kata ‘besar’ pada negara Indonesia? Sepatutnya negeri ini untuk masuk ke dalam kelompok negara besar. Setidaknya rujukan itu dapat berkaca pada populasi penduduk. Hingga pertengahan tahun ini, populasi penduduk Indonesia ditaksir telah mencapai 258 juta jiwa. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara berpenduduk terpadat nomor empat di dunia. Dari total populasi itu, merujuk data dari laman CIA.gov, median age dari penduduk Indonesia ini berusia 29,9 tahun. Artinya, inilah cerminan rata-rata usia penduduk Indonesia pada masa sekarang. Lantas jika menengok struktur usia, sekitar 59% dari total penduduk Indonesia adalah penduduk berusia antara 15-54 tahun. Kelompok usia ini merupakan usia produktif yang tentunya menyimpan semangat muda untuk membawa negeri ini menjadi lebih baik ke depan. Di balik potensi populasi tadi, ternyata kaum muda masa kini dihadapkan pada tantangan yang berbeda dengan para pemuda masa lalu. Masa kini, tantangan terbesar kaum muda adalah globalisation borderless, globalisasi tanpa batas negara. Ancaman terbesar dari hadirnya globalisation borderless ini terdapat sektor ekonomi dan informasi. Inilah yang sepatutnya menjadi bahan refleksi untuk mempertanyakan sejauh manakah kaum muda Indonesia mampu merespons tantangan zaman tersebut? Ketika ekonomi dan informasi sudah tak lagi tersekat dalam batas-batas teritorial bernama negara, di sanalah sesungguhnya muncul ancaman terbesar bagi kaum muda yang menjadi mayoritas penduduk di negeri ini. Apakah kaum
  6. muda Indonesia masih bersemangat menjaga nasionalisme agar tak luntur saat

    arus informasi luar kian menderas dan produk impor semakin tak terbendung? Dalam memaknai nasionalisme, tentunya kita tidak bisa lagi menerjemahkannya secara sempit atau hanya sekedar menduplikasi semangat kaum muda pada 88 tahun silam. Seiring terkikisnya sekatan ekonomi dan informasi antarnegara tadi, disinilah urgensi untuk memaknai nilai nasionalisme itu menjadi semakin meluas. Nasionalisme pada masa kini, sepatutnya dipandang bagaimana kaum muda negeri ini bisa berjiwa kreatif, mandiri, dan berwirausaha. Inilah tantangan terbesar untuk menciptakan kaum muda yang kompetitif di tengah era global seperti sekarang. Untuk melakukannya, tentunya kaum muda harus memiliki kesiapan yang baik. Kesiapan tersebut tentu saja harus berlandaskan pada aspek keilmuan, ketrampilan, dan kepercayaan diri. Pada aspek keilmuan, bangsa ini sepertinya masih harus bekerja lebih keras untuk memperbaiki kualitas pendidikannya. Setidaknya, berdasarkan Survei UNESCO pada 2015, Indonesia sempat dilaporkan menempati posisi terendah terhadap kualitas pendidikan di negara-negara berkembang di Asia-Pasifik. Tepatnya berada pada peringkat 10 dari 14 negara. Persoalan ini masih menjadi PR besar bagi para pendidik maupun institusi pendidikan untuk meciptakan pendidikan berkualitas di negeri ini. Sementara dalam hal ketrampilan dan kepercayaan diri, upaya untuk mengasah kemampuan ini bisa dilihat pada model pendidikan yang dikemas di Unit Kegiatan Resimen Mahasiswa (Menwa). Melalui semboyan Widya Çastrena tempatkanlah mereka di tempat-tempat terhomat. Hanya dengan hal semacam itulah kita akan bisa lebih memaknai pahlawan yang sudah sangat berjasa bagi negeri ini. Perlu ditekankan juga dalam proses menmenyampaikan nilai-nilai kepahlawanan dan cerita pahlawan itu perlu adanya tokoh bangsa yang kuat. Mengapa kita membutuhkan tokoh bangsa? Hanya dengan cara semacam itulah pesan yang akan disampaikan bakal menjadi lebih kuat untuk sampai kepada publik. Pertanyaan besarnya sekarang adalah adakah tokoh bangsa yang bisa membahasakan nilai-nilai ketokohan dari para pahlawan masa lalu kepada masyarakat yang tengah larut dalam euforia demokrasi dan kebebasan? Secara jujur, sekarang ini kita memang sedang mengalami krisis terhadap tokoh bangsa. Para tokoh bangsa yang kerap muncul di ruang publik, sekarang ini masih banyak terjebak pada pragmatisme politik jangan pendek. Jadi tidak mengherankan kalau kemudian masyarakat sekarang memiliki caranya sendiri untuk menjadikan pahlawan masa kini adalah orang-orang biasa yang mampu memberikan arti kepada sesamanya. Tentunya, ini menjadi sebuah ancaman bagi negeri yang kini sudah merdeka 71 tahun. Pertanyaan besar pun muncul; akankah kita meniadakan pahlawan di masa mendatang hanya karena kita sudah tak lagi mempunyai tokoh bangsa yang dapat dihormati? Atau, akankah para pahlawan masa lalu itu akan tergerus dari ingatan kolektif generasi mendatang hanya karena kita begitu bangga dengan liberalisme informasi?
  7. Dharma Siddha, para pemuda -- dalam hal ini para mahasiswa

    -- ditempa untuk menyempurnakan pengabdian dirinya melalui ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan. Ilmu keprajuritan di sini sangat berkaitan erat dengan jiwa keperwiraan, keksatriaan, serta kepemimpinan. Inilah yang sesungguhnya menjadi modal berharga untuk menghadapi persaingan global pada masa kini. Ketika tuntutan menguasai ekonomi dan informasi menjadi hal mutlak, sudah sepatutnya mendorong kaum muda untuk merebutnya, bukan mengacuhkannya. Tentu saja, usaha untuk hal tersebut harus ditanamkan melalui upaya menuntut ilmu. Tesisnya, dengan semakin berilmu maka bakal meningkat juga daya saing SDMnya. Lalu tak boleh dilupakan juga, semua pihak beserta pemerintah harus terus mendorong kaum muda negeri ini untuk dapat menumbuhkan jiwa-jiwa kreatif enterpreuner. Saat kaum muda itu kreatif, berwawasan keilmuan serta berjiwa pemimpin, hal itulah yang sebenarnya dibutuhkan dalam jawaban tantangan ekonomi dan informasi yang sudah tak lagi mengenal batas negara. Di sanalah nasionalisme itu terselip dalam jiwa muda yang selalu bergolak. Generasi muda masa kini harus memiliki semangat nasionalisme semacam itu untuk menjawab tantangan zaman. Demikian yang dapat saya sampaikan pada peringatan hari sumpah Pemuda ini, tetaplah SEMANGAT, junjung tinggi tanah air dan tumpah darah kita, bangsa kita, dan bahasa kita. Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
  8. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 89

    Tahun 2017
  9. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 89

    Tahun 2017 Assalamualaikum Wr Wb Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua Para peserta upacara, Sivitas Academica Universitas Darma Persada, khususnya para pemuda dan pemudi yang saya cintai. Belum lama ini, kita semua digaduhkan oleh idiom kata pribumi yang disampaikan dalam pidato perdana Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Pandangan masyarakat menjadi terbelah, ada yang pro dan ada yang kontra. Dalam iklim demokrasi, hadirnya pro dan kontra itu sesungguhnya merupakan hal yang lazim terjadi. Semua perbedaan pandangan itu sepatutnya dapat dilihat sebagai sebuah dinamika dari kehidupan berdemokrasi. Bukan sebaliknya, perbedaan cara pandang dalam memaknai kata pribumi itu justru terus digoreng sebagai komoditas politik yang bertujuan destruktif. Tanpa hendak mempersoalkan lebih jauh soal kata pribumi tersebut, kita harusnya bisa berkaca pada sebuah sejarah besar bangsa ini. Marilah kita mengingat kembali bagaimana kaum-kaum muda terpelajar pada 1928 mampu mengikarkan dirinya sebagai satu tanah air, bangsa dan bahasa bernama Indonesia. Sejarah pun mencatat, ikrar itu sebagai Sumpah Pemuda yang selalu kita peringati setiap 28 Oktober. Sebagai penggagas Kongres Pemuda pada saat itu adalah Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, termasuk di dalamnya pemuda-pemudi dari Perkumpulan Sekar Roekoen, Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemoeda Kaoem Betawi. Lahirnya peristiwa Sumpah Pemuda itu sesungguhnya menegaskan bahwa keragamanan perbedaan yang dimiliki bangsa ini justru mampu dijadikan sebagai perekat untuk melawan penjajah. Sebagai bangsa yang dianugerahi dengan kekayaan 1.340 suku bangsa (BPS, 2010), perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Filosofi itulah yang kemudian kita kenal sebagai Bhineka Tunggal Ika. Para peserta upacara, Sivitas Academica Universitas Darma Persada, khususnya para pemuda dan pemudi yang saya cintai. Harus diakui untuk menerima perbedaan itu bukanlah hal mudah. Selepas Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan berlanjut pada Pilkada DKI Jakarta, polarisasi pandangan dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini menjadi semakin tampak garis demarkasinya antara pihak pro dan kontra. Melihat kondisi sekarang ini kita seakan bergerak mundur, jauh melebihi 89 tahun silam yang menjadi salah satu tonggak sejarah bersatunya rakyat atas nama Indonesia yang diwujudkan dalam Sumpah Pemuda.
  10. Lantas mengapa polarisasi perbedaan-perbedaan ini menjadi begitu mudah meruncing pada

    masa kini? Dari sekian banyak faktor, saya meyakini ketimpangan pendidikan di negeri ini menjadi salah satu penyebab utama, selain juga faktor ketimpangan ekonomi. Mengutip hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) 2012, budaya literasi Indonesia masih sangat tertinggal di kawasan Asia Tenggara. Posisi Indonesia sudah tertinggal jauh dibandingkan dengan negeri jiran seperti Singapura dan Malaysia. Rendahnya budaya literasi ini diperkuat juga dengan temuan Pusat Data dan Statistik Kemendikbud 2015 yang mengungkap angka buta huruf Indonesia mencapai 5.984.075 orang. Rendahnya kemampuan literasi itu ternyata berdampak pula pada kualitas pendidikan di negeri ini. Mengutip artikel dari laman Deutsche Welle (Februari, 2017) diperlihatkan bahwa secara umum kualitas pendidikan Indonesia masih berada di bawah Palestina, Samoa dan Mongolia. Hanya sebanyak 44 persen penduduk Indonesia yang menuntaskan pendidikan menengah. Sementara, 11 persen murid gagal menuntaskan pendidikan alias keluar dari sekolah. Data Kemristekdikti juga mengungkapkan pada 2016 jumlah mahasiswa di Indonesia yang terdata hanya ada sekitar 5,3 juta jiwa. Bila dihitung terhadap populasi penduduk berusia 19-30 tahun, angka partisipasi kasar (APK) itu baru ada sekitar 23 persen saja. Idealnya, untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia unggul (SDM), APK harus sebesar 30 persen atau jumlah mahasiswa idealnya adalah sebanyak 6,9 juta jiwa. (Cahyono, 2016). Inilah tantangan besar sekaligus potret suram yang kini dimiliki oleh bangsa yang telah mereguk kemerdekaan 72 tahun. Ketika kualitas pendidikan dan budaya literasi masyarakatnya masih sangat rendah maka adanya perbedaan-perbedaan itu akan menjadi sangat rentan untuk menimbulkan gesekan yang kelak dapat berujung pada lahirnya konflik horisontal. Tentunya, hal semacam itu sangat tidak kita harapkan terjadi di negeri yang kita cintai ini. Para peserta upacara, Sivitas Academica Universitas Darma Persada, khususnya para pemuda dan pemudi yang saya cintai. Lantas apa yang bisa kita perbuat untuk mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut? Ini juga mengingat, tahun depan kita akan memasuki tahun yang berat. Tahun 2018 dipastikan akan semakin lagi banyak intrik poltik yang lebih menghebohkan menjelang Pilpres 2019. Boleh jadi, dikotomi yang siap mengusik persatuan negeri ini tak hanya persoalan seperti kata pribumi saja. Di sinilah tanggung jawab dari kelompok terpelajar. Walau secara populasi jumlah mereka tak banyak namun sejarah selalu mencatat bahwa perubahan besar itu justru selalu digerakkan oleh kelompok menengah yang terpelajar. Bukti itu sudah berwujud nyata ketika kaum terpelajar di negeri ini menyatukan tekadnya dalam ikrar Sumpah Pemuda pada 1928. Di saat potensi gesekan akan terus meningkat di hari-hari mendatang maka kaum terpelajar seharusnya bisa menempatkan dirinya sebagai kelompok yang mampu merekatkan.
  11. Dalam upaya merekatkan kesatuan tersebut, sikap kritis tentunya harus tetap

    dijaga. Tanpa adanya kritik maka di sanalah kemunduran besar buat demokrasi. Namun demikian, kritik-kritik yang dilahirkan itu muaranya harus tetap konstruktif sebagai bentuk tanggung jawab intelektual dalam mengawal pemerintahan ini menuju jalan yang terbaik. Sebaliknya juga, ketika para kaum terpelajar ini menyampaikan kritik maka pemerintah jangan melihatnya sebagai sebuah bentuk kebencian, melainkan harus menyikapinya sebagai sebuah penyemangat untuk membantu roda pemerintah berjalan lebih baik. Maka sudah sewajarnya kalau momentum Sumpah Pemuda ini menjadi pelecut langkah bagi para kaum terpelajar di negeri ini untuk bisa menempatkan dirinya sebagai perekat kesatuan bangsa Indonesia melalui pemikiran, gagasan, dan tindakan nyata. Marilah kita semaikan darma untuk mengabdikan diri pada masyarakat dengan lebih banyak lagi mengaktualisasikan riset yang dapat memberi kemaslahatan masyarakat. Sekaranglah waktunya para kaum terpelajar untuk berbuat nyata karena tantangan di masa mendatang di negeri ini akan semakin besar. Rasanya akan menjadi dosa besar jika para kaum terpelajar tidak mampu menyemaikan kebaikan yang dapat merekatkan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang maju di kemudian hari. Demikian yang dapat saya sampaikan pada peringatan hari sumpah Pemuda ini, tetaplah SEMANGAT, junjung tinggi tanah air dan tumpah darah kita, bangsa kita, dan bahasa kita. Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
  12. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 90

    Tahun 2018
  13. Pidato Rektor Unsada Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 90

    Tahun 2018 Assalamualaikum Wr Wb Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua Para peserta upacara, Sivitas Academica Universitas Darma Persada, khususnya para pemuda dan pemudi yang saya cintai. Ada suatu ungkapan berbahasa Inggris: “If you play by the rules, you will always lose”. Ungkapan tersebut janganlah di interpretasikan untuk bersikap membiasakan diri melanggar aturan. Ungkapan itu harusnya dimaknai secara lebih luas. Sepatutnya, dalam memaknai ungkapan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk ajakan untuk secara aktif tidak menempatkan diri terjebak pada aturan baku yang terkadang malah mengekang lahirnya sikap-sikap kreatif dan inovatif. Cara berpikir inilah yang harusnya didorong oleh kaum muda pada masa kini. Momentum hari Sumpah Pemuda yang kini telah genap berusia 90 tahun sudah seharusnya dijadikan pembakar semangat para pemuda masa kini untuk menjadi garda terdepan perubahan (agent of change) di negeri ini dengan menghasilkan karya-karya yang inovatif. Patut diicatat bahwa tantangan pemuda pada masa kini dan masa lalu itu sudah berbeda jauh. Dalam satu dekade terakhir ini, para pemikir dunia — khususnya dari kalangan dunia bisnis — menggambarkan tantangan yang dihadapi pada masa kini ke dalam fenomena situasi yang bersifat volatile, uncertain, complexity and ambiguity (VUCA). Istilah ini sesungguhnya mengadopsi dari dunia militer. Fenomena VUCA itu untuk menggambarkan situasi informasi medan tempur yang amat terbatas. Kerap kali, medan seperti itu bisa mengantarkan pihak yang terlibat di dalamnya masuk ke dalam situasi chaos atau diistilahkan medan perang kabut (fog war). Inilah kondisi nyata yang dihadapi pada masa kini di saat perkembangan teknologi digital sudah semakin akrab dalam keseharian. Fenomena volatile ini digambarkan sebagai gejolak perubahan yang terus berlangsung. Pada masa kini, fenomena semacam itu terlihat jelas dengan lahirnya tatanan ekonomi baru. Di sini terjadinya perubahan terhadap tata nilai dan gaya hidup serta begitu masifnya arus pertukaran informasi, barang dan jasa yang berlangsung secara cepat. Belakangan, fenomena semacam ini kerap dikaitkan dengan kondisi distruption. Merujuk penjelasan Profesor Rhenald Kasali, disruption ini terjadi akibat adanya perubahan cara berbisnis yang dulunya sangat menekankan owning (kepemilikan) menjadi sharing (saling berbagi peran, kolaborasi resources) (Kompas.com, 2017). Saat ini kita sudah merasakan dampaknya seperti hadirnya aplikasi Go-Jek karya anak muda Indonesia yang telah berperan besar dalam mengubah mainset publik negeri ini terhadap sistem transportasi yang berbasis konsumen.
  14. Lalu kondisi uncertain atau ketidakpastian merupakan cerminan dari kondisi kehidupan

    masa kini yang sudah semakin borderless, tanpa batas. Apa yang terjadi di belahan dunia lain, sering kali memberikan pengaruh besarnya di negeri ini. Fenomena ini bisa kita temukan dalam bisnis global yang terkadang memberikan pengaruh nyata kepada iklim bisnis di tanah air. Kemudian terhadap fenomena complexity, sebagaimana dijelaskan Leksana TH (2018), merupakan situasi dimana kita kesulitan memahami penyebab suatu masalah secara langsung. Interdepensi dan interkoneksi berbagai kejadian menjadi penyebab yang saling mempengaruhi satu sama lain. Penyebab kompleksitas bisa berasal dari berbagai multi faktor seperti munculnya beragam kompetitor baru, disrupsi teknologi, berubahnya pola konsumsi, regulasi yang kompleks, perubahan pola supply chain serta beragam faktor lainnya. Sedangkan, fenomena ambiguity memiliki padanan kata membingungkan. Fenomena ini dialami pada masa kini ketika kepastian untuk mencapai hasil itu dirasa menjadi sangat unpredicatable. Sesuatu yang terlihat mudah, dalam pelaksanaannya ternyata kerap menemukan situasi-situasi yang mengejutkan dan menjadi kendala untuk menggapai goal yang telah ditetapkan. Para peserta upacara, Sivitas Academica Universitas Darma Persada, khususnya para pemuda dan pemudi yang saya cintai. Terhadap tantangan yang sudah berubah pesat itu, apa yang harusnya dilakukan oleh kaum muda pada masa kini? Sebagaimana kalimat pembuka tulisan ini, kaum muda harusnya berani berpikiran out of the box. Aturan yang dibuat manusia itu sesungguhnya selalu memiliki ruang dan celah yang dapat dimaksimalkan demi melahirkan kebaikan. Sosok semacam Nadiem Makarim yang mendirikan Go-Jek bisa dijadikan sosok hero bagi kaum muda masa kini dalam melahirkan produk-produk kreatif dan inovatif. Tantangan bonus demografi yang akan dihadapi negeri ini dalam kurun waktu tak sampai 10 tahun lagi harusnya menjadi agenda besar yang patut direspons oleh kaum muda masa kini. Data Kementerian Ketenagakerjaan mengungkap jumlah penduduk yang masuk dalam angkatan kerja sekarang ini sebanyak 54,2 juta orang. Populasi ini selayaknya dapat menjadi aset bagi perekonomian nasional karena kaum muda menjadi bagian penting di dalamnya. Selain mendorong lahirnya cara berpikir inovatif tadi, kaum muda tentunya tak boleh untuk mengabaikan pendidikan. Dengan semakin membaiknya level pendidikan maka menjadi salah satu cara untuk merespons tantangan yang ada. Di sini, tanggungjawab tak Hanya menjadi milik kaum muda saja. Namun, lembaga pendidikan tinggi harusnya bisa berpikir revolusioner dalam merespons fenomena VUCA yang kini dihadapi. Model-model pengajaran yang selama ini hanya terjebak pada rutinitas di dalam kelas dan berlangsung monolog, harusnya bisa diperkaya. Salah satunya dengan lebih banyak lagi mengembangkan riset yang semakin responsif terhadap
  15. kebutuhan masyarakat masa kini. Artinya, riset yang lahir itu bisa

    diaplikasi dan bukan hanya menjadi koleksi di ruang- ruang akademik. Artinya, ketika arus perubahan itu sudah semakin bergerak masif maka kaum muda tak boleh lagi sebagai penonton. Begitu juga halnya dengan institusi pendidikan tinggi yang harusnya bersikap responsif untuk mendorong lahirnya kaum muda yang berpikiran inovatif dan kreatif. Inilah tantangan yang harusnya kita jawab secara bersama-sama dalam memaknai esensi dari Hari Sumpah Pemuda. Demikian yang dapat saya sampaikan pada peringatan hari sumpah Pemuda ini, tetaplah SEMANGAT, junjung tinggi tanah air dan tumpah darah kita, bangsa kita, dan bahasa kita. Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.